Framing Negatif di Media Sosial: Ketika Asumsi Pribadi Membentuk Persepsi Publik
Jumat, 14 Agustus 2026
Di media sosial, seseorang tidak selalu dinilai berdasarkan apa yang benar-benar ia lakukan.
Sering kali, ia dinilai berdasarkan cerita yang dibangun orang lain tentang dirinya.
Satu potongan video.
Satu kalimat.
Satu foto.
Satu komentar.
Kemudian muncul interpretasi:
“Pasti ada maksud tertentu.”
“Kayaknya dia manipulatif.”
“Kelihatannya sombong.”
“Berarti selama ini dia memang seperti itu.”
Masalahnya, interpretasi bukanlah fakta.
Namun ketika interpretasi tersebut diulang berkali-kali, dibagikan, dikomentari, dan mendapatkan banyak persetujuan, ia dapat berubah menjadi sesuatu yang terasa seperti “kebenaran publik”.
Inilah salah satu persoalan dalam komunikasi digital: framing negatif.
---
Apa itu framing negatif?
Framing secara sederhana dapat dipahami sebagai cara seseorang memilih dan menonjolkan aspek tertentu dari sebuah peristiwa sehingga orang lain melihat peristiwa tersebut melalui sudut pandang tertentu.
Framing tidak selalu berarti berbohong.
Seseorang bahkan bisa menyampaikan fakta yang benar, tetapi memilih bagian tertentu, menghilangkan konteks tertentu, atau menggunakan bahasa tertentu sehingga persepsi audiens menjadi berbeda.
Contohnya sederhana.
Seseorang mengatakan:
«“Dia menolak membantu temannya.”»
Kalimat tersebut terdengar negatif.
Tetapi bagaimana jika konteks lengkapnya adalah:
«“Dia menolak karena saat itu sedang mengalami kondisi yang membuatnya tidak mampu membantu.”»
Faktanya mungkin sama:
dia menolak.
Tetapi maknanya bisa sangat berbeda.
Di media sosial, konteks sering kali jauh lebih pendek daripada kehidupan nyata.
---
Ketika asumsi berubah menjadi “fakta”
Ada proses psikologis yang sering terjadi:
Fakta → interpretasi → asumsi → narasi → persepsi publik.
Misalnya:
Fakta:
Seseorang tidak membalas pesan.
↓
Interpretasi:
“Mungkin dia sedang sibuk.”
↓
Asumsi:
“Dia memang tidak menghargai saya.”
↓
Narasi:
“Dia orang yang tidak peduli kepada orang lain.”
↓
Persepsi publik:
“Memang dari dulu dia seperti itu.”
Padahal kita sudah berjalan sangat jauh dari fakta awal.
Yang menarik, manusia memang tidak memproses informasi dalam ruang hampa. Kita membawa pengalaman sebelumnya, keyakinan, emosi, dan penilaian ketika menerima informasi baru.
Karena itu, dua orang dapat melihat kejadian yang sama tetapi memberikan makna yang berbeda.
---
Media sosial memperbesar efeknya
Dalam kehidupan offline, sebuah komentar mungkin hanya didengar oleh beberapa orang.
Di media sosial, satu komentar dapat dilihat oleh ratusan bahkan jutaan orang.
Lebih jauh lagi, media sosial mempertemukan banyak kelompok audiens dalam satu ruang. Penelitian tentang context collapse menunjukkan bahwa berbagai audiens yang biasanya terpisah dalam kehidupan offline dapat bertemu dalam konteks digital yang sama.
Akibatnya, sebuah pernyataan yang sebenarnya ditujukan kepada satu konteks dapat ditafsirkan oleh orang lain yang tidak mengetahui konteks awalnya.
Yang tahu ceritanya mungkin hanya satu orang.
Yang menilai bisa ribuan orang.
Di sinilah persoalannya.
---
Komentar publik juga dapat membentuk persepsi
Bayangkan seseorang melihat sebuah unggahan.
Awalnya ia belum memiliki pendapat.
Kemudian ia membaca:
«“Manipulatif.”»
Komentar berikutnya:
«“Aku juga merasa begitu.”»
Lalu:
«“Dari dulu memang kelihatan aneh.”»
Kemudian puluhan orang memberikan tanda setuju.
Apa yang terjadi?
Orang yang awalnya netral dapat mulai merasa:
«“Oh… ternyata banyak orang melihatnya seperti itu.”»
Penelitian mengenai komentar di media sosial menunjukkan bahwa iklim opini yang terbentuk dari komentar dapat memengaruhi persepsi dan kecenderungan seseorang untuk ikut menyampaikan pendapat. Bahkan kolom komentar dapat membuat audiens memiliki persepsi yang keliru tentang seperti apa sebenarnya opini publik.
Artinya, jumlah komentar bukan otomatis ukuran kebenaran.
Banyak orang mengatakan sesuatu bukan berarti sesuatu tersebut menjadi fakta.
---
Negativitas juga mudah mendapatkan perhatian
Ada alasan mengapa konten bernada negatif sering terasa lebih “ramai”.
Konflik menarik perhatian.
Kontroversi mengundang komentar.
Label membuat sebuah cerita terasa sederhana.
Dan ketika emosi sudah terlibat, seseorang dapat lebih mudah bereaksi sebelum benar-benar memahami konteks.
Penelitian eksperimental juga menemukan bahwa paparan terhadap komentar yang tidak beradab dapat meningkatkan emosi negatif dan memperkuat polarisasi sikap.
Ini menciptakan sebuah lingkaran:
Konten negatif → emosi → komentar → engagement → semakin banyak orang melihat → persepsi semakin kuat.
Pada akhirnya, sebuah narasi dapat berkembang jauh melampaui informasi awalnya.
---
Kita perlu membedakan fakta, opini, dan asumsi
Ini adalah salah satu literasi mental yang penting di era digital.
Cobalah berhenti sejenak ketika melihat sebuah konten dan tanyakan:
1. Apa faktanya?
Apa yang benar-benar terlihat, terdengar, atau dapat diverifikasi?
2. Apa interpretasinya?
Apa makna yang diberikan seseorang terhadap fakta tersebut?
3. Apa asumsi saya?
Apa yang sebenarnya saya simpulkan sendiri tanpa memiliki informasi yang cukup?
4. Apa konteks yang belum saya ketahui?
Apa yang mungkin terjadi sebelum atau sesudah potongan informasi tersebut?
5. Apakah saya sedang menilai orang atau perilakunya?
Seseorang melakukan kesalahan tidak otomatis berarti seluruh identitasnya adalah “orang buruk”.
Seseorang berkata kasar tidak otomatis membuktikan seluruh karakternya buruk.
Satu keputusan yang keliru tidak otomatis menjadi diagnosis kepribadian.
Inilah pentingnya kehati-hatian dalam memberi label.
---
Framing negatif tidak selalu berarti korban selalu benar
Ada satu hal yang juga perlu diperhatikan.
Membahas bahaya framing negatif bukan berarti kita harus membela semua orang yang sedang dikritik.
Jika seseorang memang melakukan kesalahan, merugikan orang lain, atau melakukan tindakan yang dapat dibuktikan, kritik tetap diperlukan.
Yang perlu dihindari adalah melompat dari perilaku menuju kesimpulan total tentang karakter seseorang tanpa bukti yang memadai.
Kita dapat mengatakan:
«“Perilaku tersebut bermasalah.”»
Tanpa harus mengatakan:
«“Orang itu pasti manusia yang bermasalah.”»
Perbedaan kalimatnya kecil.
Tetapi dampak psikologis dan sosialnya besar.
---
Jangan biarkan algoritma menjadi hakim karakter manusia
Media sosial memiliki kecenderungan mempertemukan kita dengan konten yang sesuai dengan minat dan interaksi kita.
Ketika kita berkali-kali melihat narasi yang sama, narasi tersebut dapat terasa semakin familiar.
Ditambah komentar-komentar yang menguatkan, kita dapat mengalami ilusi bahwa:
«“Semua orang berpikir seperti ini.”»
Padahal yang kita lihat hanyalah sebagian kecil dari populasi yang berinteraksi dalam ruang digital tertentu.
Karena itu, literasi digital bukan hanya kemampuan membedakan berita palsu dan berita benar.
Literasi digital juga berarti mampu mengatakan:
«“Saya belum tahu cukup banyak untuk menyimpulkan.”»
Kalimat sederhana ini membutuhkan kedewasaan berpikir.
---
Sebelum membagikan, berhenti sebentar
Tidak semua sesuatu yang membuat kita marah harus dibagikan.
Tidak semua cerita yang terasa benar harus dipercaya.
Tidak semua komentar yang mendapatkan banyak likes harus dianggap valid.
Dan tidak semua seseorang yang terlihat buruk dalam sebuah potongan video memang buruk dalam keseluruhan kehidupannya.
Sebelum ikut memperkuat sebuah framing, tanyakan:
Apakah saya memiliki konteks lengkap?
Apakah saya sedang melihat fakta atau interpretasi seseorang?
Apakah saya sedang menambahkan asumsi saya sendiri?
Apakah komentar saya membantu memahami masalah atau justru memperbesar stigma?
Karena sekali sebuah narasi tersebar, kita tidak selalu bisa mengendalikan bagaimana orang lain menggunakannya.
---
Kesadaran dimulai dari cara kita memberi makna
Pada akhirnya, masalah framing negatif bukan hanya tentang media sosial.
Ia juga tentang cara kerja pikiran manusia.
Kita semua memiliki kecenderungan untuk mencari pola, memberi makna, dan membuat kesimpulan.
Itulah sebabnya kesadaran menjadi penting.
Bukan agar kita berhenti menilai.
Tetapi agar kita menilai dengan lebih sadar.
Bukan agar kita tidak boleh memiliki opini.
Tetapi agar kita mampu membedakan:
“Saya tahu.”
dengan
“Saya menduga.”
dan
“Saya merasa.”
Tiga hal tersebut tidak sama.
---
Penutup: Pahami sebelum menilai
Media sosial memberi kita kekuatan luar biasa untuk berbicara.
Tetapi kekuatan berbicara harus berjalan bersama tanggung jawab untuk memahami.
Karena sebuah asumsi pribadi yang disampaikan dengan penuh keyakinan dapat berubah menjadi framing.
Framing yang terus diulang dapat membentuk persepsi.
Dan persepsi publik dapat memengaruhi kehidupan nyata seseorang.
Maka sebelum mengetik komentar, mungkin ada satu pertanyaan sederhana yang layak kita bawa:
«“Apakah saya sedang menyampaikan fakta, atau sedang menyebarkan cerita yang saya buat sendiri tentang seseorang?”»
Sadari pikiran.
Periksa asumsi.
Pahami konteks.
Baru kemudian menilai.
Karena di era ketika satu komentar dapat dilihat banyak orang, menjaga ucapan bukan hanya soal sopan santun—tetapi juga bagian dari kesehatan sosial dan kesehatan jiwa.
JiwaSehat — Mind • Heart • Life
Referensi pilihan
- Marwick, A. E., & boyd, d. (2011). I tweet honestly, I tweet passionately: Twitter users, context collapse, and the imagined audience. New Media & Society.
- Lee, M. J., & Chun, J. W. (2016). Reading others’ comments and public opinion poll results on social media. Computers in Human Behavior.
- Duncan, M., et al. (2020). Staying silent and speaking out in online comment sections. Computers in Human Behavior.
- Kim, Y., & Kim, Y. (2019). Incivility on Facebook and political polarization. Computers in Human Behavior.