Perselingkuhan Bukan Cuma Soal Moral: Ketika Perilaku, Biologi, dan Pola Keluarga Bertemu

Gambar - Perselingkuhan Bukan Cuma Soal Moral: Ketika Perilaku, Biologi, dan Pola Keluarga Bertemu
Perselingkuhan sering kali berhenti pada satu kalimat: “Dia tidak punya moral.” Kalimat itu mungkin terasa benar secara moral. Tetapi jika kita ingin memahami manusia secara lebih utuh, pertanyaannya tidak berhenti di sana. Mengapa seseorang memilih berselingkuh? Mengapa sebagian orang mampu menahan dorongan, sementara yang lain berulang kali mencari validasi di luar hubungan? Mengapa ada pola hubungan yang seolah terus berulang dalam sebuah keluarga? Dan yang paling menarik: Apakah sebuah perilaku benar-benar berhenti pada orang yang melakukannya, atau dapat meninggalkan jejak pada pasangan, anak, dan generasi berikutnya? Jawabannya tidak sesederhana “genetik” atau “karma”. Di antara perilaku, lingkungan keluarga, stres, perkembangan otak, dan biologi tubuh terdapat jaringan hubungan yang jauh lebih kompleks. --- Perselingkuhan Memang Sebuah Pilihan Mari mulai dari hal yang paling penting. Memahami faktor biologis, psikologis, atau keluarga bukan berarti membebaskan seseorang dari tanggung jawab. Perselingkuhan tetap merupakan perilaku yang melibatkan pilihan, batasan, nilai, kejujuran, dan tanggung jawab terhadap pasangan. Memahami mengapa seseorang melakukan sesuatu berbeda dengan membenarkan apa yang dilakukannya. Seseorang mungkin memiliki pengalaman masa kecil yang buruk. Mungkin tumbuh dalam keluarga yang tidak sehat. Mungkin memiliki pola attachment tertentu. Mungkin terbiasa mencari validasi eksternal. Mungkin memiliki regulasi impuls yang buruk. Namun semua itu tidak otomatis berarti: “Dia pasti akan berselingkuh.” Manusia bukan mesin yang programnya sudah terkunci. --- Lalu Di Mana Biologi Berperan? Tubuh manusia tidak terpisah dari pengalaman hidup. Stres psikologis, lingkungan sosial, pola tidur, nutrisi, aktivitas fisik, dan pengalaman emosional dapat berinteraksi dengan berbagai sistem biologis. Salah satu bagian yang menarik untuk dipelajari adalah mitokondria. Mitokondria sering disebut sebagai penghasil energi sel karena berperan penting dalam produksi ATP dan berbagai proses metabolisme. Namun mitokondria bukan sekadar “baterai”. Penelitian modern menunjukkan bahwa mitokondria juga terlibat dalam respons terhadap stres dan komunikasi antara proses psikologis dengan proses biologis. Review sistematis mengenai stres psikologis dan mitokondria menemukan bahwa stres dapat memengaruhi berbagai aspek biologi mitokondria, meskipun bukti manusia masih memiliki keterbatasan dan hubungan sebab-akibatnya belum sepenuhnya dipahami. Bahkan penelitian manusia yang terbit pada 2026 semakin memperkuat bahwa respons stres dapat berkaitan dengan perubahan aktivitas mitokondria. Namun ini masih merupakan bidang penelitian yang berkembang. Jadi, kita mulai melihat sebuah jembatan: pengalaman → stres → sistem biologis → fungsi sel. Tetapi jangan melompat terlalu jauh. Belum ada dasar ilmiah untuk mengatakan: “Orang yang berselingkuh memiliki mitokondria buruk.” Apalagi: “Mitokondria menyebabkan seseorang berselingkuh.” Itu adalah klaim yang terlalu jauh. --- Kalau Begitu, Apa Hubungannya dengan Perselingkuhan? Hubungannya berada pada ekosistem perilaku dan stres, bukan pada sebuah organel yang menentukan moral seseorang. Bayangkan seseorang tumbuh dalam keluarga di mana: - perselingkuhan dianggap biasa, - kebohongan digunakan untuk mempertahankan hubungan, - kebutuhan emosional tidak dibicarakan, - konflik diselesaikan dengan manipulasi, - orang tua tidak memberikan contoh komunikasi sehat, - validasi dicari dari luar keluarga. Anak tidak hanya mendengar nasihat. Anak mengamati kehidupan. Ia belajar: «“Begini rupanya hubungan bekerja.”» Dan pembelajaran semacam ini dapat menjadi bagian dari pola relasional yang terbawa sampai dewasa. Bukan karena anak menerima “gen perselingkuhan”. Tetapi karena perilaku dapat dipelajari. --- Anak Mewarisi Gen, tetapi Juga Mewarisi Lingkungan Ini bagian yang sering membingungkan. Ketika kita mengatakan sebuah pola “menurun”, itu tidak selalu berarti DNA membawa perilaku tersebut seperti membawa warna mata. Anak dapat menerima pengaruh melalui banyak jalur: genetik, perkembangan otak, pola pengasuhan, lingkungan rumah, pembelajaran sosial, pengalaman stres, budaya keluarga, dan hubungan dengan caregiver. Penelitian mengenai keluarga menunjukkan bahwa lingkungan dan proses biologis dapat berinteraksi dalam membentuk perkembangan dan kesehatan anak. Studi mengenai epigenetik keluarga juga sedang mengeksplorasi bagaimana pengalaman lingkungan dapat berhubungan dengan perubahan regulasi gen. Artinya, ketika kita melihat pola yang berulang dalam keluarga, kita tidak boleh buru-buru mengatakan: “Ini genetik.” Bisa jadi yang diwariskan adalah: cara berpikir. cara mencintai. cara menyelesaikan konflik. cara menghadapi stres. cara mencari validasi. cara memperlakukan pasangan. Dan semua itu dapat dipelajari jauh sebelum seorang anak memahami arti kata “perselingkuhan”. --- Epigenetik: Apakah Pengalaman Bisa Meninggalkan Jejak Biologis? Di sinilah pembahasannya menjadi semakin menarik. Epigenetik mempelajari perubahan dalam regulasi ekspresi gen yang tidak mengubah urutan DNA itu sendiri. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa lingkungan dan stres dapat berkaitan dengan perubahan epigenetik. Dalam studi hewan, terdapat bukti bahwa beberapa pengaruh lingkungan dapat diteruskan kepada keturunan melalui mekanisme epigenetik. Namun pada manusia, pertanyaan mengenai sejauh mana perubahan tersebut benar-benar diwariskan lintas generasi masih menjadi perdebatan ilmiah. Karena itu, kita perlu berhati-hati dengan istilah: “trauma diwariskan secara genetik.” Kalimat tersebut terlalu sederhana. Yang lebih tepat: «Pengalaman orang tua dapat memengaruhi anak melalui jalur biologis, perkembangan, pengasuhan, dan lingkungan; kemungkinan mekanisme epigenetik juga sedang diteliti.» Dan penelitian mengenai transmisi epigenetik antargenerasi pada manusia masih membutuhkan bukti yang lebih kuat. --- Lalu Apakah Perselingkuhan Bisa Diturunkan? Bukan seperti warna mata. Tidak ada “gen perselingkuhan” yang membuat seseorang pasti menjadi tidak setia. Tetapi pola yang berkaitan dengan hubungan dapat berulang. Misalnya: Seorang anak melihat ayahnya sering berselingkuh. Ibunya mengetahui tetapi terus mempertahankan hubungan tanpa pernah membicarakan batasan atau tanggung jawab. Anak belajar bahwa: cinta boleh disertai kebohongan. Kemudian ia dewasa. Ia memasuki hubungan. Ketika mengalami konflik, bukannya berbicara, ia mencari pelarian. Bukan karena DNA berkata: “Berselingkuhlah.” Tetapi karena sepanjang hidupnya ia mungkin tidak pernah mendapatkan model alternatif yang sehat. Inilah yang membuat pola keluarga menjadi penting. --- Yang Ditularkan Bisa Jadi Bukan Perselingkuhannya Ini bagian yang menurut saya jauh lebih penting. Yang berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya mungkin bukan tindakan perselingkuhan itu sendiri. Tetapi: ketidakmampuan mengelola dorongan. ketidakmampuan menghadapi konflik. kebutuhan validasi eksternal. ketakutan terhadap keintiman. normalisasi kebohongan. ketidakmampuan menetapkan batas. pola menghindari percakapan sulit. keyakinan bahwa kebutuhan pribadi harus selalu dipenuhi meskipun melukai orang lain. Jadi, daripada bertanya: «“Apakah anak dari orang tua yang berselingkuh akan menjadi peselingkuh?”» Pertanyaan yang lebih bermakna adalah: «“Pola apa yang dipelajari anak dari hubungan orang tuanya?”» --- Dan Di Sini Mitokondria Menjadi Menarik Mitokondria dapat menjadi salah satu bagian dari cerita tentang bagaimana pengalaman psikososial berhubungan dengan biologi tubuh. Stres kronis tidak hanya merupakan pengalaman “di kepala”. Respons stres melibatkan sistem neuroendokrin, metabolisme, imun, dan berbagai proses seluler. Penelitian tentang mitochondrial allostatic load mengusulkan bahwa paparan stres psikologis yang berkepanjangan dapat berhubungan dengan perubahan fungsi mitokondria. Tetapi: mitokondria bukan pembawa moral. Mitokondria bukan pembawa karma. Mitokondria bukan penentu apakah seseorang akan menjadi pasangan setia atau tidak. Ia adalah bagian dari sistem biologis yang sangat kompleks. Dan justru karena kompleks itulah kita perlu berhenti menggunakan istilah biologis secara sembarangan. --- Bagaimana dengan “Karma” dari Perselingkuhan? Kalau kata karma digunakan secara spiritual, itu merupakan wilayah keyakinan. Tetapi jika kita membicarakannya secara ilmiah, kita dapat melihat sesuatu yang lebih konkret: perilaku memiliki konsekuensi. Seseorang yang terus berbohong dapat kehilangan kepercayaan. Seseorang yang membangun hubungan dengan manipulasi dapat menciptakan lingkungan relasional yang tidak aman. Anak yang tumbuh dalam konflik kronis dapat mengalami dampak perkembangan dan stres. Pola komunikasi dapat diteruskan. Pola pengasuhan dapat diteruskan. Dan pengalaman keluarga dapat memengaruhi generasi berikutnya. Itulah “jejak” yang jauh lebih masuk akal untuk dibahas secara ilmiah. --- Tetapi Pola Tidak Harus Menjadi Takdir Ini justru bagian yang paling penting. Jika pola dapat dipelajari, maka pola juga dapat diubah. Seseorang yang tumbuh melihat perselingkuhan bukan berarti harus mengulangnya. Seseorang yang memiliki orang tua dengan hubungan tidak sehat bukan berarti harus memiliki hubungan yang sama. Seseorang yang pernah menjadi korban pengkhianatan bukan berarti selamanya harus hidup dalam ketakutan. Kesadaran membuka kemungkinan baru. Ketika seseorang mulai menyadari: “Oh, ternyata selama ini aku mengulang sesuatu yang pernah kulihat.” Di situlah perubahan dapat dimulai. Bukan dengan menyalahkan orang tua. Bukan dengan menyalahkan gen. Bukan dengan menyalahkan mitokondria. Tetapi dengan mengambil kembali tanggung jawab atas pilihan hari ini. --- Pernikahan Adalah Tempat Pola Bertemu Karena itu, menikah bukan hanya mempertemukan: dua orang. Pernikahan mempertemukan: dua sejarah hidup. Dua keluarga. Dua sistem nilai. Dua cara menghadapi konflik. Dua pengalaman masa kecil. Dua cara memahami cinta. Dua cara merespons stres. Dan dua kemungkinan: mengulang pola lama atau membangun pola baru. Inilah mengapa marriage readiness seharusnya tidak hanya bertanya: “Apakah kamu sudah siap menikah?” Tetapi juga: «“Pola apa yang kamu bawa ke dalam pernikahan?”» --- Sebelum Menikah, Kenali “Warisan” yang Tidak Terlihat Sebelum mengatakan “aku menerima kamu apa adanya”, ada baiknya dua orang belajar mengenali: - bagaimana keluarga masing-masing menyelesaikan konflik, - bagaimana orang tua menunjukkan kasih sayang, - bagaimana keluarga memandang kesetiaan, - bagaimana uang dibicarakan, - bagaimana kemarahan diekspresikan, - bagaimana batasan dibuat, - bagaimana kesalahan diperbaiki, - bagaimana kebutuhan emosional dikomunikasikan, - dan bagaimana masing-masing menghadapi godaan serta validasi dari luar hubungan. Karena kita tidak hanya menikahi seseorang. Kita juga membawa pola yang selama ini membentuk diri kita. Kesadaran bukan jaminan bahwa pernikahan akan selalu mudah. Tetapi ketidaksadaran membuat pola lama lebih mudah berjalan otomatis. --- Pada Akhirnya, Perselingkuhan Bukan Sekadar Soal Moral Moral tetap penting. Tanggung jawab tetap penting. Kesetiaan tetap merupakan pilihan. Tetapi manusia terlalu kompleks jika dijelaskan hanya dengan: “Dia memang orang jahat.” Untuk memahami pola perselingkuhan secara lebih utuh, kita perlu melihat beberapa lapisan sekaligus: Perilaku ↓ Pikiran, emosi, dan kebutuhan ↓ Pengalaman hidup & pola keluarga ↓ Stres dan lingkungan ↓ Respons biologis tubuh ↓ Pola yang mungkin kembali dipelajari oleh generasi berikutnya Namun panah tersebut bukan garis sebab-akibat sederhana. Tidak ada satu faktor tunggal yang menentukan seseorang akan berselingkuh. Dan tidak ada bukti bahwa mitokondria membuat seseorang menjadi tidak setia. Yang ada adalah sebuah sistem manusia yang kompleks—tempat biologi, psikologi, perilaku, relasi, dan lingkungan saling berinteraksi. --- Memutus Pola Dimulai dari Kesadaran Mungkin pertanyaan paling penting bukan: “Siapa yang salah?” Tetapi: “Pola apa yang sedang terjadi?” Dan setelah menyadarinya: “Apakah pola itu harus diteruskan?” Tidak. Kita mungkin tidak bisa memilih keluarga tempat kita dilahirkan. Tidak bisa mengubah masa lalu. Tidak bisa menghapus pengalaman yang pernah terjadi. Tetapi kita masih memiliki ruang untuk memilih: apa yang akan kita pelajari, apa yang akan kita ulangi, dan apa yang akan kita hentikan. Karena generasi berikutnya tidak membutuhkan keluarga yang sempurna. Mereka membutuhkan orang dewasa yang sadar terhadap pola yang sedang mereka wariskan. Perselingkuhan mungkin dimulai dari satu keputusan. Tetapi dampaknya dapat menyentuh sebuah sistem keluarga. Dan perubahan pun demikian. Satu orang yang berani menyadari pola dapat menjadi awal dari pola yang berbeda. JiwaSehat Memahami diri. Memahami relasi. Memutus pola yang tidak sehat. Membangun generasi yang lebih sadar. Catatan ilmiah: Pembahasan mengenai mitokondria, stres, dan epigenetik dalam artikel ini menggambarkan bidang penelitian yang masih berkembang. Bukti mengenai pengaruh stres terhadap biologi mitokondria lebih kuat pada sebagian penelitian eksperimental dan observasional dibanding bukti yang secara spesifik menghubungkan perselingkuhan dengan perubahan mitokondria. Sementara itu, transmisi epigenetik antargenerasi pada manusia masih belum dapat disimpulkan secara sederhana.