Anomalistic Psychology

Gambar - Anomalistic Psychology
Anomalistic Psychology Memahami pengalaman manusia yang dianggap “di luar yang biasa” tanpa buru-buru menjadikannya fakta supranatural Ada pengalaman manusia yang sulit dijelaskan. Seseorang merasa melihat sosok yang tidak dilihat orang lain. Seseorang terbangun dalam keadaan tidak bisa bergerak dan merasa ada “kehadiran” di kamar. Ada yang mengalami déjà vu yang sangat kuat, merasa mendapatkan pertanda, mengalami pengalaman keluar dari tubuh, atau meyakini pernah mengalami kejadian paranormal. Pertanyaannya kemudian: Apakah psikologi mempelajari hal-hal seperti ini? Jawabannya: ya, pengalaman dan keyakinannya dapat menjadi objek kajian psikologi. Tetapi ada batas yang sangat penting: > Mempelajari pengalaman yang dianggap supranatural tidak sama dengan membuktikan bahwa penyebabnya memang supranatural. --- Apa itu Anomalistic Psychology? Anomalistic psychology atau psikologi anomalistik merupakan bidang yang mempelajari fenomena pengalaman dan perilaku yang tampak tidak biasa atau sering dianggap paranormal, dengan menggunakan kerangka psikologi dan ilmu terkait. Salah satu pusat akademik yang secara eksplisit mengembangkan bidang ini adalah Anomalistic Psychology Research Unit di Department of Psychology, Goldsmiths, University of London. Deskripsi mereka menekankan penelitian terhadap keyakinan paranormal dan pengalaman yang ostensibly paranormal, termasuk upaya mencari penjelasan non-paranormal berdasarkan faktor psikologis dan fisik yang telah diketahui. Dengan kata lain, kata “anomalistik” tidak berarti “psikologi mengakui paranormal sebagai fakta.” Justru pertanyaan ilmiahnya adalah: > Mengapa manusia mengalami sesuatu sebagai luar biasa, dan bagaimana pengalaman tersebut dapat dijelaskan? --- 1. Pengalaman manusia adalah objek yang berbeda dari penjelasan tentang pengalaman tersebut Ini bagian paling penting. Bayangkan seseorang mengatakan: > “Saya melihat hantu.” Ada beberapa pertanyaan berbeda di balik satu kalimat tersebut. Pertanyaan pertama: Apakah orang tersebut benar-benar mengalami sesuatu? Bisa saja. Dia mungkin benar-benar mengalami persepsi visual, sensasi kehadiran, rasa takut, atau pengalaman yang sangat nyata baginya. Pertanyaan kedua: Apa yang menyebabkan pengalaman tersebut? Ini dapat menjadi pertanyaan psikologis dan ilmiah. Misalnya: bagaimana persepsi bekerja, bagaimana perhatian bekerja, bagaimana memori terbentuk, bagaimana sugesti memengaruhi pengalaman, bagaimana ekspektasi memengaruhi interpretasi, bagaimana kondisi tidur memengaruhi persepsi, bagaimana emosi dan stres berperan, bagaimana konteks sosial dan budaya membentuk makna. Pertanyaan ketiga: > “Apakah yang dilihat itu benar-benar makhluk supranatural?” Ini adalah klaim yang berbeda. Tidak otomatis terjawab hanya karena psikologi berhasil mempelajari pengalaman orang tersebut. --- 2. Pengalaman subjektif bisa sangat nyata tanpa otomatis membuktikan interpretasinya Ini bukan berarti pengalaman seseorang harus ditertawakan atau dianggap “halusinasi” begitu saja. Justru penelitian psikologi anomalistik menunjukkan bahwa pengalaman yang dianggap paranormal dapat terjadi pada orang yang tidak mengalami gangguan psikologis berat. Salah satu contoh yang sering dibahas adalah sleep paralysis. Dalam keadaan antara tidur dan bangun, seseorang dapat mengalami ketidakmampuan bergerak disertai sensasi kehadiran, suara, sosok, sentuhan, bahkan rasa tertekan atau ketakutan yang intens. Pengalaman seperti ini kemudian dapat diberi interpretasi berbeda berdasarkan konteks budaya dan keyakinan seseorang. Jadi: pengalamannya nyata sebagai pengalaman manusia. Tetapi: interpretasi terhadap pengalaman tersebut masih merupakan pertanyaan tersendiri. --- 3. Budaya ikut membentuk cara manusia memberi makna Menariknya, pengalaman yang secara fenomenologis mirip dapat memperoleh interpretasi yang berbeda dalam budaya berbeda. Misalnya pengalaman sleep paralysis pernah dikaitkan dengan berbagai konsep budaya mengenai roh, makhluk malam, atau serangan supernatural. Goldsmiths memberikan contoh bagaimana fenomena serupa mendapatkan interpretasi berbeda dalam berbagai kebudayaan. Ini menunjukkan sesuatu yang penting: > Otak mengalami sesuatu → manusia memberikan makna → budaya menyediakan kerangka untuk memahami makna tersebut. Karena itu psikologi tidak hanya bertanya: “Apa yang dialami?” tetapi juga: “Bagaimana manusia memahami apa yang dialaminya?” --- 4. Bagaimana dengan telepati, prekognisi, atau psychokinesis? Di sinilah kita perlu lebih berhati-hati. Klaim seperti: telepati, clairvoyance, precognition, psychokinesis, mediumship, merupakan klaim paranormal yang dapat menjadi objek penyelidikan. Tetapi keberadaannya sebagai objek penelitian tidak sama dengan keberadaannya sebagai fakta ilmiah yang sudah terbukti. Goldsmiths, misalnya, mencatat bahwa penelitian anomalistik juga pernah melakukan pengujian langsung terhadap klaim seperti kemampuan psikis, mediumship, dowsing, “human magnetism”, dan precognition. Jadi sikap ilmiahnya bukan: > “Jangan dibahas karena terdengar aneh.” Tetapi juga bukan: > “Karena sudah diteliti, berarti benar.” Melainkan: > “Mari kita uji klaimnya.” --- 5. Psikologi tidak harus memilih antara “percaya” dan “menghina” Ada kesalahan lain yang sering terjadi. Ketika seseorang mengatakan: > “Saya mengalami sesuatu yang tidak biasa.” Respons yang buruk adalah: > “Ah, kamu mengada-ada.” Tetapi respons yang sama bermasalahnya adalah: > “Kalau kamu mengalaminya, berarti penjelasan supranaturalmu benar.” Ada posisi ketiga yang jauh lebih ilmiah: > “Saya percaya bahwa kamu mengalami sesuatu. Sekarang mari kita pisahkan pengalamanmu dari interpretasi mengenai penyebabnya.” Itulah ruang yang sangat menarik bagi psikologi anomalistik. --- 6. Psikologi dapat bertanya tentang mekanismenya Pengalaman luar biasa dapat dipelajari melalui berbagai cabang psikologi dan ilmu terkait. Misalnya: Persepsi Bagaimana otak mengolah informasi sensorik? Memori Seberapa akurat manusia mengingat peristiwa yang tidak biasa? Kognisi Mengapa manusia menemukan pola dan makna dalam kejadian yang ambigu? Sugesti Bagaimana ekspektasi dan informasi dari orang lain memengaruhi pengalaman? Emosi Bagaimana ketakutan dan kecemasan mengubah interpretasi terhadap stimulus? Tidur Apa yang terjadi pada pengalaman ketika kesadaran berada di antara tidur dan bangun? Psikologi sosial Bagaimana kelompok dan lingkungan sosial membentuk keyakinan? Psikologi budaya Bagaimana sistem kepercayaan masyarakat memengaruhi interpretasi pengalaman? Penelitian eksperimental bahkan menunjukkan bahwa sugesti dan pengaruh sosial dapat memengaruhi laporan ingatan terhadap suatu peristiwa yang dipersepsikan sebagai paranormal. --- 7. Di sinilah kita harus membedakan tiga hal Saya kira inilah fondasi paling penting untuk memahami Anomalistic Psychology. 1. EXPERIENCE — PENGALAMAN > “Saya melihat, mendengar, merasakan, atau mengalami sesuatu.” Ini adalah pengalaman manusia. --- 2. INTERPRETATION — INTERPRETASI > “Saya menganggap pengalaman itu sebagai hantu, energi, jin, pertanda, telepati, atau sesuatu yang lain.” Ini adalah cara seseorang memberikan makna terhadap pengalaman. --- 3. ONTOLOGICAL CLAIM — KLAIM TENTANG REALITAS > “Berarti makhluk tersebut benar-benar ada secara objektif.” Ini adalah klaim mengenai realitas. Dan ketiganya tidak boleh diperlakukan sebagai hal yang sama. --- 8. Jadi, apakah Anomalistic Psychology adalah “psikologi yang percaya supranatural”? Tidak. Lebih tepat mengatakan: > Anomalistic psychology mempelajari pengalaman dan keyakinan yang sering dianggap paranormal atau supranatural, dengan menggunakan pendekatan psikologi dan metode ilmiah. Christopher French dari Goldsmiths secara eksplisit menjelaskan bidang ini sebagai kajian terhadap keyakinan paranormal dan pengalaman yang tampak paranormal, dengan perhatian pada penjelasan non-paranormal. Bahkan dalam seminar Goldsmiths tentang klaim paranormal, pendekatan yang ditekankan adalah pengujian klaim, bukan memberikan pengesahan otomatis terhadap klaim tersebut. --- 9. Lalu di mana posisi parapsikologi? Ini juga sering tertukar. Anomalistic psychology dan parapsychology bukan istilah yang otomatis identik. Parapsikologi secara khusus berkaitan dengan penyelidikan terhadap klaim fenomena seperti telepati, precognition, psychokinesis, dan fenomena psi lainnya. Sementara pendekatan anomalistik dalam psikologi banyak berfokus pada: > Mengapa manusia mengalami atau mempercayai sesuatu sebagai paranormal? Termasuk kemungkinan peran: bias kognitif, sugesti, memori, persepsi, sleep paralysis, magical thinking, pengaruh sosial, dan faktor psikologis lainnya. Karena itu “ada penelitian tentang paranormal” tidak boleh diterjemahkan menjadi “paranormal sudah terbukti secara ilmiah.” --- 10. Dan di sinilah batas ilmu menjadi sangat indah Ilmu tidak harus berkata: > “Kami tahu semuanya.” Justru ilmu yang sehat mampu mengatakan: > “Ini yang sudah diketahui.” > “Ini yang belum diketahui.” > “Ini hipotesis.” > “Ini pengalaman subjektif.” > “Ini klaim yang masih perlu diuji.” > “Ini belum memiliki bukti yang cukup.” Itulah yang membuat ilmu tetap terbuka tanpa kehilangan batas. --- Anomalistic Psychology bukan izin untuk percaya Dan ini penting terutama di era media sosial. Ketika masyarakat mendengar: > “Psikologi mempelajari pengalaman paranormal.” jangan sampai kalimat tersebut berubah menjadi: > “Psikologi mengakui paranormal.” Itu adalah dua pernyataan yang berbeda. Objek penelitian tidak otomatis menjadi objek yang telah terbukti secara ilmiah. Sebuah fenomena dapat diteliti karena manusia melaporkannya. Sebuah keyakinan dapat diteliti karena banyak orang mempercayainya. Sebuah pengalaman dapat diteliti karena memiliki konsekuensi psikologis. Tetapi semua itu belum otomatis membuktikan penjelasan yang diberikan terhadap pengalaman tersebut. --- Pada akhirnya Anomalistic Psychology mengajarkan sebuah sikap yang menurut saya sangat penting: > Jangan menertawakan pengalaman manusia. Jangan pula menjadikan pengalaman manusia sebagai bukti otomatis atas sebuah klaim. Kita bisa terbuka tanpa menjadi mudah percaya. Kita bisa skeptis tanpa menjadi sinis. Kita bisa menghormati pengalaman tanpa mengesahkan semua interpretasi. Dan yang paling penting: > PENGALAMAN BOLEH NYATA. INTERPRETASI BELUM TENTU FAKTA. KLAIM TENTANG REALITAS MEMERLUKAN BUKTI. Di situlah Anomalistic Psychology menjadi menarik—bukan karena psikologi membuktikan dunia supranatural, tetapi karena ia mengajak kita memahami **manusia yang berada di antara pengalaman, persepsi, keyakinan, budaya, dan pencarian makna.**