Etika, Ettitude, Gratitude

Gambar - Etika, Ettitude, Gratitude
Tiga hal sederhana yang memperlihatkan kualitas seseorang Ada banyak hal yang bisa dipelajari seseorang dalam hidup: ilmu, keterampilan, strategi, bahkan cara berbicara. Namun ada tiga hal yang sering kali justru memperlihatkan kualitas diri seseorang jauh lebih jelas daripada gelar atau kepandaian: Etika. Ettitude. Gratitude. Bukan sekadar bagaimana seseorang terlihat di depan orang lain, tetapi bagaimana ia bersikap ketika tidak ada yang sedang menilai. --- 1. Etika: Tahu Apa yang Layak Dilakukan Etika bukan hanya tentang mengetahui mana yang benar dan salah. Etika juga tentang memahami batas. Tidak semua hal yang kita ketahui harus kita ceritakan. Tidak semua masalah orang lain layak menjadi konsumsi publik. Tidak semua informasi yang kita miliki memberi kita hak untuk membukanya kepada orang lain. Ada perbedaan antara berbicara tentang sebuah persoalan dan menelanjangi persoalan seseorang. Di sinilah etika bekerja. Seseorang mungkin memiliki cerita yang menarik. Konflik yang dramatis. Masalah keluarga. Hubungan yang berantakan. Kesalahan masa lalu. Bahkan rahasia yang membuat orang lain penasaran. Tetapi mengetahui sesuatu tidak otomatis berarti kita memiliki hak untuk menyebarkannya. Privasi tetaplah privasi, meskipun ceritanya menarik. Etika mengajarkan kita untuk bertanya: «“Apakah ini perlu saya katakan?” “Apakah orang ini memberikan izin?” “Apa dampaknya jika saya membicarakannya di ruang publik?”» Kadang-kadang, kedewasaan bukan terlihat dari seberapa banyak kita bisa bicara. Tetapi dari seberapa banyak yang kita pilih untuk tidak katakan. --- 2. Ettitude: Sikap yang Menunjukkan Siapa Kita Ettitude di sini kita gunakan sebagai permainan kata dari attitude—cara kita membawa diri, merespons keadaan, dan memperlakukan orang lain. Sebab karakter seseorang tidak hanya terlihat ketika semuanya berjalan sesuai keinginannya. Justru sering terlihat ketika: - pendapatnya ditolak, - keinginannya tidak terpenuhi, - seseorang berbeda dengannya, - ia sedang kecewa, - atau ketika ia memiliki kesempatan untuk merendahkan orang lain. Mudah bersikap baik ketika kita sedang mendapatkan apa yang kita inginkan. Yang lebih sulit adalah tetap memiliki sikap yang baik ketika ego kita sedang terusik. Attitude bukan berarti harus selalu tersenyum. Kita boleh marah. Boleh kecewa. Boleh tidak setuju. Boleh mengatakan “tidak”. Boleh meninggalkan hubungan yang tidak sehat. Tetapi semuanya tetap bisa dilakukan tanpa kehilangan martabat dan kemanusiaan. Karena tegas tidak harus kasar. Berani tidak harus merendahkan. Dan berbeda pendapat tidak harus berubah menjadi permusuhan. --- 3. Gratitude: Mampu Menghargai Gratitude adalah kemampuan untuk menyadari dan menghargai apa yang ada dalam kehidupan. Bukan berarti kita harus berpura-pura bahagia dengan semua keadaan. Bersyukur bukan berarti menolak kenyataan bahwa hidup kadang sulit. Kita tetap boleh mengakui: “Ini berat.” Sambil pada saat yang sama mampu mengatakan: “Tetapi masih ada hal yang bisa saya hargai.” Gratitude membuat kita tidak terus-menerus hidup dalam mode kekurangan. Bukan karena semua sudah sempurna. Tetapi karena kita mulai melihat bahwa hidup tidak hanya terdiri dari apa yang belum kita miliki. Ada orang yang membantu kita. Ada kesempatan yang pernah datang. Ada pengalaman yang mengajarkan sesuatu. Ada tubuh yang terus membawa kita menjalani hari. Ada orang-orang yang masih memilih tinggal. Ketika kita mampu menghargai hal-hal tersebut, perspektif kita terhadap kehidupan pun berubah. --- Etika, Ettitude, Gratitude Ketiganya sebenarnya saling berhubungan. Etika mengajarkan kita tentang batas. Ettitude menunjukkan bagaimana kita bersikap di dalam batas tersebut. Gratitude mengajarkan kita untuk menghargai apa yang kita miliki dan siapa yang hadir dalam kehidupan kita. Dan ketiganya tidak membutuhkan panggung. Tidak perlu diumumkan. Tidak perlu dipamerkan. Sebab kualitas seseorang justru sering terlihat dari hal-hal kecil yang dilakukan ketika tidak ada kamera, tidak ada penonton, dan tidak ada tepuk tangan. Kita tidak harus menjadi manusia yang sempurna. Tetapi kita bisa terus belajar menjadi manusia yang lebih sadar, lebih beradab, dan lebih bertanggung jawab terhadap cara kita memperlakukan orang lain. Karena pada akhirnya— ilmu bisa membuat seseorang pintar. Kekuasaan bisa membuat seseorang berpengaruh. Uang bisa membuat seseorang memiliki banyak pilihan. Tetapi etika, sikap, dan rasa syukur memperlihatkan bagaimana seseorang menggunakan semuanya. JiwaSehat Jaga pikiran. Jaga sikap. Jaga lisan. Jaga batas. Dan jangan kehilangan rasa syukur. Karena hidup yang sehat bukan hanya tentang bagaimana kita merasa baik. Tetapi juga tentang bagaimana keberadaan kita tidak menjadi alasan orang lain kehilangan martabatnya.