KESADARAN BUKAN LABEL: KETIKA “SUDAH SADAR” MENJADI IDENTITAS

Gambar - KESADARAN BUKAN LABEL: KETIKA “SUDAH SADAR” MENJADI IDENTITAS
KESADARAN BUKAN LABEL: KETIKA “SUDAH SADAR” MENJADI IDENTITAS Ketika Kesadaran yang Seharusnya Menjadi Proses Justru Berubah Menjadi Citra Diri Abstrak Istilah kesadaran semakin sering digunakan dalam percakapan mengenai kesehatan mental, pengembangan diri, mindfulness, spiritualitas, dan transformasi pribadi. Dalam praktiknya, muncul kecenderungan untuk mengubah pengalaman subjektif mengenai kesadaran menjadi sebuah identitas: “Saya sudah sadar,” “Saya lebih sadar daripada orang lain,” atau “Mereka belum sampai pada tingkat kesadaran saya.” Fenomena tersebut menarik untuk dikaji karena dalam psikologi, konsep kesadaran, self-concept, identitas, metakognisi, dan decentering memiliki makna yang berbeda dan tidak dapat begitu saja disatukan. Artikel ini membahas bagaimana pengalaman kesadaran dapat berubah menjadi kategori identitas, bagaimana proses kategorisasi diri dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya dan orang lain, serta mengapa kemampuan mengamati pikiran dan pengalaman tanpa terlalu melekat padanya justru menjadi salah satu tema penting dalam penelitian tentang decentering dan mindfulness. Artikel ini juga membedakan antara pengalaman kesadaran sebagai fenomena psikologis dengan klaim spiritual atau metafisik yang membutuhkan dasar epistemologis berbeda. Kata kunci: kesadaran, self-awareness, self-concept, identitas, metakognisi, mindfulness, decentering, kategorisasi diri, spiritualitas. --- 1. Ketika “Sudah Sadar” Menjadi Sebuah Identitas Dalam beberapa tahun terakhir, kata sadar mengalami perluasan penggunaan. Seseorang dapat mengatakan: «“Saya sudah sadar.”» «“Setelah sadar, saya tidak mau berurusan dengan orang yang belum sadar.”» «“Orang yang sudah sadar pasti tidak melakukan itu.”» «“Saya berada di level kesadaran yang berbeda.”» Sekilas, pernyataan tersebut tampak seperti ekspresi perkembangan diri. Namun ada pertanyaan psikologis yang menarik: «Apa yang terjadi ketika kesadaran tidak lagi dipahami sebagai proses pengamatan, tetapi menjadi identitas tentang siapa diri kita?» Di sinilah pentingnya membedakan antara: mengalami kesadaran, menyadari sesuatu, memiliki kemampuan metakognitif, dan mengidentifikasi diri sebagai “orang yang sadar”. Keempatnya tidak selalu sama. --- 2. Kesadaran Bukan Satu Konsep Sederhana Dalam kajian ilmiah, consciousness sendiri merupakan konsep yang kompleks dan memiliki berbagai pendekatan teoritis. Karena itu, penggunaan kata “kesadaran” dalam percakapan sehari-hari perlu diperjelas. Ketika seseorang mengatakan: «“Saya semakin sadar.”» Pertanyaan ilmiahnya adalah: Sadar terhadap apa? Apakah: - sadar terhadap pikiran? - sadar terhadap emosi? - sadar terhadap sensasi tubuh? - sadar terhadap pola perilaku? - sadar terhadap hubungan sosial? - sadar terhadap proses berpikir sendiri? - atau sedang menggunakan “kesadaran” sebagai istilah spiritual? Tanpa definisi, satu kata dapat digunakan untuk menunjuk berbagai fenomena yang berbeda. Masalahnya bukan pada penggunaan istilah tersebut. Masalah muncul ketika satu istilah digunakan seolah-olah memiliki satu makna universal. --- 3. Kesadaran, Self-Awareness, dan Identitas Bukan Hal yang Sama Dalam psikologi, kita dapat membedakan beberapa konsep. Self-awareness Merupakan perhatian atau kesadaran seseorang terhadap dirinya sendiri, termasuk keadaan internal dan perilakunya. Self-concept Merupakan representasi atau pemahaman seseorang mengenai siapa dirinya. Identity Berkaitan dengan bagaimana seseorang mendefinisikan dan menempatkan dirinya dalam berbagai kategori, peran, hubungan, dan konteks sosial. Metacognition Merupakan kemampuan untuk merefleksikan proses kognitif sendiri—misalnya menyadari bagaimana kita berpikir, menilai, mengingat, atau mengambil keputusan. Konsep-konsep tersebut saling berkaitan, tetapi tidak identik. Kajian mengenai identitas menunjukkan bahwa identitas manusia bersifat kompleks dan dipengaruhi oleh konteks sosial, kategori diri, hubungan, serta kelompok tempat seseorang berada. Karena itu, mengatakan: «“Saya sadar.”» tidak otomatis berarti: «“Saya memiliki pemahaman objektif mengenai diri saya.”» --- 4. Mengetahui Diri Tidak Sama dengan Mengetahui Diri Secara Sempurna Ada paradoks menarik dalam psikologi: «Manusia dapat menjadi objek sekaligus pengamat bagi dirinya sendiri.» Kita dapat mengamati pikiran kita. Kita dapat menyadari emosi kita. Kita dapat menilai perilaku kita. Namun kemampuan mengamati diri tidak berarti bahwa seluruh penilaian kita mengenai diri otomatis benar. Penelitian mengenai self-knowledge menunjukkan adanya berbagai keterbatasan dan blind spots dalam pengetahuan seseorang mengenai dirinya sendiri. Salah satu pendekatan yang diteliti adalah mindfulness sebagai cara meningkatkan perhatian terhadap pengalaman diri secara lebih non-evaluatif. Dengan kata lain: «Kesadaran diri tidak sama dengan infalibilitas diri.» Seseorang dapat sangat reflektif tetapi tetap salah memahami dirinya. Seseorang dapat sangat yakin terhadap dirinya tetapi belum tentu memiliki pemahaman diri yang akurat. --- 5. Ketika “Saya Sadar” Berubah Menjadi Kategori Diri Manusia memiliki kecenderungan untuk mengategorikan dunia. Kategorisasi membantu kita memahami lingkungan yang kompleks. Dalam psikologi sosial, kategorisasi diri dan identitas merupakan mekanisme penting dalam bagaimana manusia memahami dirinya dan kelompok sosialnya. Karena itu, sangat mungkin seseorang membangun kategori: «“Saya adalah orang yang sadar.”» Kategori tersebut pada awalnya mungkin tidak bermasalah. Masalah dapat muncul ketika kategori itu menjadi terlalu kaku. Misalnya: «“Orang sadar tidak boleh marah.”» «“Orang sadar tidak pernah gagal.”» «“Orang sadar tidak akan memilih seperti mereka.”» «“Kalau kamu masih melakukan itu, berarti kamu belum sadar.”» Pada titik tersebut, “kesadaran” tidak lagi hanya digunakan untuk menggambarkan proses psikologis. Ia berubah menjadi standar identitas. --- 6. Identitas Dapat Membantu, Tetapi Juga Dapat Mengikat Identitas bukan sesuatu yang secara otomatis buruk. Identitas membantu manusia menjawab: «“Siapa saya?”» «“Apa yang penting bagi saya?”» «“Bagaimana saya ingin menjalani hidup?”» Namun identitas juga dapat menjadi kaku ketika seseorang terlalu melekat pada satu kategori diri. Kajian mengenai identitas menunjukkan bahwa identitas manusia dapat terdiri dari berbagai kategori dan berubah sesuai konteks. Bahkan seseorang dapat memiliki banyak identitas yang saling berinteraksi. Karena itu, manusia tidak perlu direduksi menjadi satu label: «“Saya orang sadar.”» Sama seperti seseorang tidak dapat sepenuhnya direduksi menjadi: «“Saya korban.”» «“Saya penyintas.”» «“Saya healer.”» «“Saya introvert.”» «“Saya spiritual.”» «“Saya rasional.”» Satu label tidak pernah sepenuhnya mewakili kompleksitas manusia. --- 7. Masalah Dimulai Ketika Label Menjadi Hierarki Ada perbedaan besar antara: «“Saya sedang belajar memahami diri.”» dan: «“Saya sudah berada di tingkat kesadaran yang lebih tinggi.”» Pernyataan kedua menciptakan hierarki. Kemudian dapat muncul pembagian: yang sadar versus yang belum sadar. Selanjutnya: yang lebih sadar versus yang kurang sadar. Pada tahap tertentu, istilah “kesadaran” dapat berubah dari konsep reflektif menjadi alat untuk mengategorikan manusia. Padahal kategorisasi sosial memang dapat membantu manusia menyederhanakan dunia, tetapi juga dapat menghasilkan penilaian, stereotip, dan batas antarkelompok. Dengan demikian, pertanyaan pentingnya bukan: «“Siapa yang paling sadar?”» melainkan: «“Apa yang sebenarnya kita maksud dengan sadar?”» --- 8. Kesadaran yang Fleksibel vs Identitas yang Kaku Ada perbedaan psikologis yang menarik. Seseorang dapat mengatakan: «“Saya menyadari bahwa saya sedang marah.”» Ini merupakan pengamatan terhadap pengalaman. Tetapi ia dapat berubah menjadi: «“Saya orang yang sudah sadar, jadi saya tidak boleh marah.”» Di sini terjadi pergeseran. Yang pertama: mengamati pengalaman. Yang kedua: mempertahankan citra diri. Padahal emosi tetap dapat muncul meskipun seseorang memiliki kemampuan refleksi yang baik. Kesadaran bukan berarti seseorang berhenti mengalami emosi, pikiran negatif, konflik, atau kesalahan. Kesadaran lebih dekat dengan kemampuan untuk menyadari apa yang sedang terjadi dan meresponsnya dengan lebih terinformasi, bukan menciptakan identitas manusia yang dianggap sudah “selesai”. --- 9. Decentering: Tidak Terlalu Melekat pada Pengalaman Internal Di sinilah konsep decentering menjadi relevan. Dalam literatur psikologi, decentering menggambarkan kemampuan untuk mengambil jarak psikologis dari pengalaman internal sehingga seseorang dapat mengamati pikiran dan emosi tanpa sepenuhnya mengidentifikasi dirinya dengan isi pengalaman tersebut. Bernstein dan kolega menjelaskan decentering melalui beberapa proses yang saling berhubungan, termasuk meta-awareness, disidentification from internal experience, dan reduced reactivity to thought content. Secara sederhana: «“Saya menyadari bahwa saya sedang berpikir demikian.”» berbeda dari: «“Apa yang saya pikirkan adalah kebenaran tentang diri saya.”» Demikian pula: «“Saya sedang mengalami kemarahan.”» berbeda dari: «“Saya adalah orang pemarah.”» Jarak tersebut dapat menjadi penting dalam proses refleksi psikologis. --- 10. Menyadari Pikiran Tidak Berarti Semua Pikiran Benar Ini merupakan konsekuensi penting. Kesadaran terhadap pikiran tidak otomatis membuat isi pikiran menjadi benar. Misalnya seseorang menyadari: «“Saya merasa semua orang tidak memahami saya.”» Kesadaran itu berguna. Tetapi kesadaran tersebut tidak membuktikan bahwa: «“Semua orang memang tidak memahami saya.”» Begitu pula: «“Saya merasa intuisi saya mengatakan sesuatu.”» adalah laporan pengalaman subjektif. Ia berbeda dari: «“Karena saya merasakannya, maka kesimpulan saya pasti benar.”» Kesadaran memberikan akses terhadap pengalaman. Ia tidak otomatis memberikan validitas objektif terhadap isi pengalaman tersebut. --- 11. Mindfulness Bukan Sertifikat “Sudah Sadar” Mindfulness juga sering mengalami perluasan makna dalam budaya populer. Dalam penelitian psikologi, mindfulness telah dipelajari sebagai sekumpulan proses atau karakteristik yang berkaitan dengan perhatian terhadap pengalaman saat ini, sikap non-judgmental, regulasi perhatian, dan proses lain yang dapat berbeda menurut model yang digunakan. Penelitian mengenai mindfulness dan decentering menunjukkan adanya hubungan dengan kemampuan mengambil perspektif terhadap pengalaman internal. Namun literatur juga menunjukkan bahwa mekanisme dan efek mindfulness tidak sesederhana klaim populer mengenai “menjadi lebih sadar”. Bahkan sebuah tinjauan sistematis terhadap 28 uji terkontrol mengenai aplikasi mindfulness menemukan hasil yang lebih konsisten pada beberapa proses seperti repetitive negative thinking, regulasi perhatian, dan decentering/defusion, sementara hasil untuk domain lain lebih beragam. Artinya: «Mindfulness dapat diteliti.» Tetapi: «Mindfulness bukan bukti bahwa seseorang telah mencapai status “manusia yang sudah sadar”.» --- 12. “Sudah Sadar” Dapat Menjadi Bentuk Self-Enhancement Ada pertanyaan yang lebih kritis. Bagaimana jika identitas “sudah sadar” justru digunakan untuk mempertahankan citra diri positif? Misalnya: «“Saya sudah sadar, maka saya lebih matang.”» «“Saya sudah sadar, maka keputusan saya lebih benar.”» «“Saya sudah sadar, maka orang lain yang bermasalah.”» Pada titik ini, konsep kesadaran dapat menjadi bagian dari self-enhancement—kecenderungan mempertahankan pandangan positif mengenai diri sendiri. Ironisnya, seseorang dapat menggunakan bahasa kesadaran untuk mempertahankan ego tentang dirinya sebagai orang yang “lebih sadar”. Ini bukan berarti setiap orang yang berbicara tentang kesadaran sedang melakukan hal tersebut. Namun secara psikologis, kemungkinan bahwa suatu konsep menjadi bagian dari identitas diri perlu tetap dipertimbangkan. --- 13. Kesadaran Tidak Menghapus Bias Menjadi reflektif tidak berarti seseorang terbebas dari: - bias kognitif; - kebutuhan akan validasi; - defensiveness; - stereotip; - konflik kepentingan; - kesalahan atribusi; - atau keterbatasan pengetahuan. Karena itu, klaim: «“Saya sudah sadar, sehingga saya tidak memiliki ego.”» secara ilmiah perlu diperlakukan hati-hati. Pertanyaannya kembali: Bagaimana “tidak memiliki ego” didefinisikan? Bagaimana diukur? Apa indikatornya? Tanpa operasionalisasi, klaim tersebut lebih tepat dipahami sebagai pernyataan filosofis atau spiritual, bukan otomatis sebagai kesimpulan psikologis yang dapat diuji. --- 14. Di Sinilah Psikologi dan Spiritualitas Perlu Dipisahkan Seseorang dapat memiliki pengalaman spiritual yang sangat bermakna. Pengalaman tersebut dapat berhubungan dengan: - nilai hidup; - makna; - keyakinan; - ritual; - hubungan dengan Tuhan; - pengalaman transendensi; - atau cara seseorang memahami keberadaannya. Namun pengalaman spiritual tidak otomatis menjadi temuan psikologi. Demikian pula, penelitian psikologi mengenai perhatian, metakognisi, mindfulness, atau self-concept tidak otomatis membuktikan klaim metafisik tertentu. Dua wilayah tersebut dapat berdialog, tetapi tidak boleh diperlakukan seolah-olah identik. Contohnya: «“Saya mengalami kedamaian ketika berdoa.”» merupakan laporan pengalaman. Sedangkan: «“Kedamaian tersebut membuktikan adanya mekanisme metafisik tertentu.”» merupakan klaim tambahan yang memerlukan dasar pembuktian berbeda. Inilah pentingnya menjaga batas antara: pengalaman, interpretasi, penjelasan psikologis, dan keyakinan. --- 15. Ketika “Kesadaran Tinggi” Menjadi Hierarki Spiritual Istilah seperti: «“kesadaran tinggi”» atau «“higher consciousness”» dapat digunakan dalam konteks spiritual, filosofis, maupun populer. Namun istilah tersebut tidak boleh otomatis diperlakukan sebagai kategori ilmiah hanya karena terdengar psikologis. Jika ingin dibahas secara ilmiah, kita perlu bertanya: - Apa definisinya? - Apa dimensinya? - Bagaimana cara mengukurnya? - Apakah terdapat instrumen yang valid? - Apakah konstruk tersebut berbeda dari konsep yang sudah ada? - Apakah hasil pengukuran dapat direplikasi? - Apakah penelitian mendukung klaim yang dibuat? Tanpa jawaban tersebut, istilah “kesadaran tinggi” sebaiknya diperlakukan sebagai istilah konseptual, bukan sebagai fakta ilmiah yang sudah mapan. --- 16. Apakah Orang yang Sadar Tidak Pernah Bereaksi? Tidak. Manusia tetap memiliki sistem emosi. Kesadaran tidak berarti menghapus seluruh respons otomatis. Seseorang dapat: marah tetapi menyadari kemarahannya. takut tetapi menyadari ketakutannya. iri tetapi menyadari rasa irinya. salah tetapi mampu mengakui kesalahannya. defensif tetapi kemudian menyadari bahwa dirinya defensif. Justru kemampuan untuk mengamati respons tersebut dapat menjadi bagian dari proses refleksi. Karena itu: «Kesadaran tidak harus terlihat seperti ketenangan permanen.» Dan: «Ketenangan yang terlihat dari luar tidak otomatis membuktikan tingkat kesadaran seseorang.» --- 17. Ukuran yang Lebih Berguna: Bagaimana Seseorang Merespons? Daripada bertanya: «“Apakah saya sudah sadar?”» pertanyaan yang lebih operasional dapat berupa: «“Apa yang saya sadari?”» «“Apakah saya dapat mengenali pola perilaku saya?”» «“Apakah saya mampu mempertimbangkan kemungkinan bahwa penilaian saya salah?”» «“Apakah saya dapat membedakan fakta dari interpretasi?”» «“Apakah saya mampu mengubah respons ketika mendapatkan informasi baru?”» «“Apakah saya dapat menerima kritik tanpa langsung menganggap orang lain tidak sadar?”» Pertanyaan seperti ini lebih dekat dengan proses refleksi dan metakognisi daripada pemberian label identitas. --- 18. Kesadaran Sebagai Proses, Bukan Status Final Salah satu risiko terbesar dari istilah: «“Saya sudah sadar.”» adalah munculnya kesan bahwa proses telah selesai. Padahal manusia terus berubah. Pengetahuan berubah. Konteks berubah. Hubungan berubah. Tubuh berubah. Pengalaman berubah. Karena itu, pemahaman diri juga dapat berubah. Mungkin kalimat: «“Saya sedang belajar menyadari diri.”» secara epistemik lebih rendah hati daripada: «“Saya sudah mencapai kesadaran.”» Bukan karena seseorang harus merendahkan dirinya. Tetapi karena manusia memiliki keterbatasan dalam mengetahui dirinya sendiri. --- 19. Dari Identitas Menuju Metakesadaran Ada pergeseran yang menarik: “Saya adalah orang yang sadar.” menjadi: “Saya sedang menyadari apa yang terjadi dalam diri saya.” Pernyataan kedua tidak terlalu bergantung pada label. Ia membuka ruang untuk: - kesalahan; - koreksi; - pembelajaran; - perubahan perspektif; - ketidakpastian; - dan penemuan baru tentang diri. Dalam konsep decentering, kemampuan mengambil jarak dari pengalaman internal memungkinkan seseorang melihat pikiran dan emosi sebagai peristiwa mental, bukan selalu sebagai definisi final tentang dirinya. Dengan demikian: «Kesadaran tidak harus menghasilkan identitas baru.» Ia dapat justru membantu seseorang lebih fleksibel terhadap identitas yang sudah dimilikinya. --- 20. Bagaimana Mengenali Ketika “Kesadaran” Mulai Menjadi Label? Beberapa tanda yang patut diperhatikan bukan sebagai diagnosis, tetapi sebagai bahan refleksi: 1. Kesadaran digunakan untuk membandingkan diri «“Saya lebih sadar daripada kamu.”» 2. Kesadaran digunakan untuk menutup kritik «“Kamu belum sadar, jadi pendapatmu tidak relevan.”» 3. Kesadaran dijadikan bukti superioritas moral «“Orang sadar tidak mungkin melakukan kesalahan seperti itu.”» 4. Semua pengalaman ditafsirkan sebagai bukti kesadaran Apa pun yang terjadi dianggap sebagai tanda bahwa diri sedang “naik level”. 5. Identitas menjadi lebih penting daripada evaluasi diri Seseorang lebih sibuk mempertahankan citra sebagai “orang sadar” daripada memeriksa apakah perilakunya benar-benar konsisten dengan nilai yang diyakininya. --- 21. Sebuah Prinsip Penting: Label Tidak Sama dengan Bukti Mengatakan: «“Saya sadar.”» adalah pernyataan mengenai diri. Mengatakan: «“Saya mampu mengenali pola berpikir saya.”» adalah klaim yang lebih spesifik. Mengatakan: «“Saya mampu mengevaluasi kesalahan berpikir saya dan mengubah respons berdasarkan bukti baru.”» lebih spesifik lagi. Semakin spesifik klaimnya, semakin mungkin klaim tersebut dibahas secara psikologis dan diuji. Sebaliknya, label yang terlalu luas: «“Saya memiliki kesadaran tinggi.”» sulit dievaluasi tanpa definisi dan ukuran yang jelas. --- 22. Kesadaran Tidak Membuat Seseorang Menjadi “Lebih Manusia” Ada kecenderungan dalam budaya pengembangan diri untuk membuat tingkatan: manusia biasa → manusia sadar → manusia sangat sadar → manusia dengan kesadaran tinggi. Struktur seperti itu mungkin memiliki fungsi metaforis dalam tradisi tertentu. Namun secara ilmiah, kita perlu berhati-hati. Jika tingkatan tersebut diklaim sebagai fakta psikologis, maka diperlukan: definisi, konstruk, indikator, instrumen, data, dan bukti validitas. Tanpa itu, kita tidak dapat begitu saja mengubah metafora spiritual menjadi kategori psikologis. --- 23. Kesimpulan Kesadaran merupakan konsep yang kompleks. Dalam psikologi, kita dapat membicarakannya melalui berbagai konstruksi seperti self-awareness, metakognisi, mindfulness, self-concept, dan decentering. Masing-masing memiliki konteks teoritis dan metodologisnya sendiri. Karena itu, penting untuk tidak menyederhanakan kesadaran menjadi sebuah label identitas. Kalimat: «“Saya sudah sadar.”» tidak otomatis menunjukkan tingkat kemampuan psikologis tertentu. Demikian pula: «“Dia belum sadar.”» tidak otomatis merupakan penilaian ilmiah terhadap orang lain. Penelitian mengenai decentering justru menunjukkan pentingnya kemampuan untuk mengambil jarak dari pengalaman internal—menyadari pikiran sebagai pikiran dan pengalaman sebagai pengalaman, tanpa harus sepenuhnya mengidentifikasikan diri dengannya. Dengan demikian, mungkin pertanyaan yang lebih sehat bukan: «“Seberapa tinggi kesadaran saya?”» tetapi: «“Seberapa mampu saya menyadari apa yang terjadi dalam diri saya tanpa buru-buru menjadikannya identitas, kebenaran mutlak, atau ukuran untuk menilai orang lain?”» Itulah perbedaan antara mengalami kesadaran dan menjadikan kesadaran sebagai identitas. --- JIWASEHAT Kesadaran tidak membutuhkan gelar. Kesadaran tidak membutuhkan label. Kesadaran juga tidak membutuhkan hierarki manusia. Kita boleh mengatakan: «“Saya sedang belajar memahami diri.”» Kita boleh mengatakan: «“Saya mulai menyadari pola saya.”» Kita bahkan boleh mengatakan: «“Saya mengalami sesuatu yang sangat bermakna bagi saya.”» Tetapi kita perlu berhati-hati ketika pengalaman tersebut berubah menjadi: «“Karena saya mengalaminya, maka saya lebih sadar.”» atau: «“Karena saya sudah sadar, maka saya lebih benar.”» Sebab pada saat kesadaran digunakan untuk membangun superioritas diri, kita mungkin tidak lagi sedang mengamati diri. Kita sedang mempertahankan identitas tentang diri. Dan mungkin bentuk kesadaran yang lebih matang justru bukan mengatakan: «“Saya sudah sadar.”» melainkan mampu berkata: «“Saya masih bisa salah. Saya masih bisa belajar. Dan saya masih perlu mengamati diri saya sendiri.”» Kesadaran bukan status yang selesai dicapai. Ia adalah proses memahami pengalaman—tanpa harus menjadikan setiap pengalaman sebagai identitas. JiwaSehat — satu manusia, banyak dimensi, banyak ilmu. --- Referensi Carlson, E. N. (2013). Overcoming the barriers to self-knowledge: Mindfulness as a path to seeing yourself as you really are. Perspectives on Psychological Science, 8(2), 173–186. Bernstein, A., Hadash, Y., Lichtash, Y., Tanay, G., Shepherd, K., & Fresco, D. M. (2015). Decentering and related constructs: A critical review and metacognitive processes model. Perspectives on Psychological Science, 10(5), 599–617. Ellemers, N., Spears, R., & Doosje, B. (2002). Self and social identity. Annual Review of Psychology, 53, 161–186. Kang, S. K., & Bodenhausen, G. V. (2015). Multiple identities in social perception and interaction: Challenges and opportunities. Annual Review of Psychology, 66, 547–574. Britton, W. B., et al. (2021). From self-esteem to selflessness: An evidence (gap) map of self-related processes as mechanisms of mindfulness-based interventions. Stokoe, E., Raymond, G., & Whitehead, K. A. (2025). Categories in social interaction: Unlocking the resources of conversation analysis and membership categorization for psychological science. Annual Review of Psychology, 76, 531–557.