KETIKA SEMUA HAL DISEBUT “KESADARAN”

Gambar - KETIKA SEMUA HAL DISEBUT “KESADARAN”
Belakangan ini kata “kesadaran” semakin sering muncul. Kesadaran diri. Kesadaran tubuh. Kesadaran spiritual. Kesadaran energi. Kesadaran finansial. Kesadaran trauma. Kesadaran kolektif. Kesadaran tinggi. Bahkan hampir semua perubahan dalam diri seseorang dapat disebut sebagai: «“Kamu sedang mengalami peningkatan kesadaran.”» Kata ini terdengar dalam, positif, dan bermakna. Tetapi justru karena sangat luas digunakan, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: «Apa sebenarnya yang dimaksud dengan “kesadaran”?» Karena jika semua hal disebut kesadaran, pada akhirnya istilah tersebut dapat kehilangan batas maknanya. --- Kesadaran bukan kata untuk semua hal Kesadaran merupakan konsep yang kompleks. Dalam psikologi dan ilmu kognitif, pembahasan tentang kesadaran dapat berkaitan dengan pengalaman subjektif, keadaan sadar, perhatian, persepsi, dan berbagai proses mental. Namun dalam bahasa sehari-hari, kata kesadaran sering digunakan untuk sesuatu yang berbeda. Misalnya: «“Sekarang saya sadar bahwa hubungan ini tidak sehat.”» Yang dimaksud mungkin adalah pemahaman atau insight. Sementara: «“Saya sedang meningkatkan kesadaran spiritual.”» merujuk pada pengalaman atau proses spiritual tertentu. Sedangkan: «“Kesadaran tubuh saya meningkat.”» bisa berarti seseorang menjadi lebih mampu memperhatikan sensasi tubuh. Ketiganya dapat menggunakan kata yang sama. Tetapi belum tentu menunjuk pada fenomena yang sama. --- Satu kata, banyak makna Inilah salah satu sumber kebingungan. Kata kesadaran dapat digunakan dalam beberapa konteks: Kesadaran sebagai keadaan sadar Misalnya seseorang dalam kondisi terjaga dan responsif. Kesadaran sebagai pengalaman subjektif Bagaimana rasanya mengalami sesuatu dari sudut pandang orang pertama. Kesadaran diri Kemampuan memperhatikan dan memahami diri sendiri. Awareness Kemampuan menyadari informasi, keadaan, atau lingkungan tertentu. Insight Pemahaman baru mengenai diri atau suatu masalah. Kesadaran moral Kepekaan terhadap nilai dan konsekuensi etis. Kesadaran spiritual Istilah yang digunakan dalam tradisi atau kerangka spiritual tertentu. Semua dapat menggunakan kata “kesadaran”. Tetapi kesamaan istilah tidak berarti kesamaan konsep. --- “Saya sadar” belum tentu berarti “kesadaran saya meningkat” Misalnya seseorang berkata: «“Dulu saya tidak sadar bahwa saya selalu mencari validasi. Sekarang saya menyadarinya.”» Ini dapat disebut sebagai peningkatan pemahaman diri atau self-awareness. Tetapi apakah itu berarti kesadaran seseorang secara keseluruhan telah naik ke tingkat tertentu? Belum tentu. Kita perlu mengetahui: Kesadaran dalam aspek apa? Karena seseorang dapat sangat sadar terhadap dirinya tetapi tidak sadar terhadap dampak perilakunya kepada orang lain. Seseorang dapat sangat sadar terhadap emosi tetapi kurang mampu mengaturnya. Seseorang dapat memiliki wawasan spiritual tetapi tetap membuat keputusan yang buruk. Kesadaran dalam satu domain tidak otomatis berarti kematangan dalam semua domain. --- Kesadaran bukan sinonim kedewasaan Ini juga penting. Kita sering mendengar: «“Dia sudah sangat sadar.”» Tetapi sadar tentang apa? Kesadaran dan kedewasaan merupakan konsep yang berbeda. Seseorang dapat mengetahui bahwa dirinya mudah marah. Tetapi pengetahuan tersebut tidak otomatis membuatnya mampu mengelola kemarahan. Seseorang dapat memahami pola traumanya. Tetapi memahami pola tersebut tidak otomatis berarti perilakunya sudah berubah. Seseorang dapat mengetahui bahwa dirinya memiliki kecenderungan tertentu. Tetapi pengetahuan itu belum tentu menghasilkan perubahan. Dengan kata lain: mengetahui ≠ berubah. menyadari ≠ mampu. memahami ≠ otomatis menerapkan. --- Kesadaran juga bukan sinonim “selalu positif” Ada anggapan bahwa orang yang lebih sadar akan selalu: - tenang; - damai; - positif; - tidak marah; - tidak takut; - tidak kecewa; - dan selalu mampu mengendalikan diri. Padahal manusia tetap manusia. Memiliki kesadaran tidak membuat seseorang berhenti mengalami emosi. Seseorang yang memiliki self-awareness tetap dapat marah. Tetap dapat sedih. Tetap dapat takut. Tetap dapat melakukan kesalahan. Yang mungkin berbeda adalah kemampuannya untuk mengenali, memahami, dan merespons pengalaman tersebut. Jadi: «Kesadaran bukan keadaan menjadi manusia tanpa emosi.» --- Lalu bagaimana dengan “kesadaran tinggi”? Istilah “kesadaran tinggi” sangat populer dalam konten pengembangan diri dan spiritualitas. Tetapi kita perlu bertanya: «Tinggi menurut ukuran apa?» Apakah ada definisi yang jelas? Apakah ada indikator yang dapat dinilai? Apakah istilah tersebut digunakan dalam teori tertentu? Atau hanya merupakan istilah populer untuk menggambarkan seseorang yang dianggap lebih bijaksana, lebih spiritual, atau lebih berkembang? Jika tidak ada definisi yang jelas, istilah tersebut mudah berubah menjadi label. Dan label dapat membuat seseorang merasa: «“Saya sudah berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada orang lain.”» Di sinilah kesadaran justru berpotensi berubah menjadi identitas ego. --- Ketika “sudah sadar” menjadi status sosial Fenomena ini menarik. Awalnya: «“Saya mulai memahami diri saya.”» Kemudian berkembang menjadi: «“Saya sudah sadar.”» Lalu: «“Orang lain belum sadar.”» Dan akhirnya: «“Karena saya lebih sadar, maka cara saya melihat dunia lebih benar.”» Ini merupakan perubahan yang perlu diperhatikan. Sebab tujuan kesadaran seharusnya bukan menciptakan kasta manusia: yang sadar vs yang belum sadar. Apalagi: yang tercerahkan vs yang bodoh. Ketika istilah kesadaran digunakan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain, kita justru perlu bertanya: «Apakah ini benar-benar kesadaran, atau hanya identitas baru?» --- Kesadaran spiritual tidak sama dengan superioritas spiritual Seseorang dapat memiliki pengalaman spiritual yang sangat dalam. Tetapi pengalaman tersebut tidak otomatis membuatnya lebih tinggi daripada manusia lain. Dalam konteks spiritual, seseorang dapat menemukan: - makna; - ketenangan; - hubungan dengan Tuhan; - nilai kehidupan; - rasa syukur; - atau pengalaman transendental. Semua itu dapat sangat bermakna. Namun ketika pengalaman tersebut digunakan untuk mengatakan: «“Saya lebih sadar daripada kamu.”» maka kita sudah masuk ke wilayah lain. Pengalaman spiritual tidak otomatis memberikan otoritas untuk menilai tingkat kesadaran orang lain. --- “Energi” tidak otomatis berarti kesadaran Kita juga sering menemukan kalimat: «“Energinya sudah naik.”» «“Frekuensinya tinggi.”» «“Kesadarannya sudah meningkat.”» Kalimat tersebut mungkin digunakan sebagai bahasa metaforis. Tidak masalah jika memang disebut sebagai metafora. Tetapi jika istilah tersebut dipresentasikan sebagai fakta ilmiah, kita perlu meminta kejelasan: Apa yang dimaksud dengan energi? Apa yang dimaksud dengan frekuensi? Bagaimana mengukurnya? Apa hubungannya dengan kesadaran? Tanpa definisi dan bukti yang jelas, istilah ilmiah dapat berubah menjadi bahasa yang hanya terdengar ilmiah. --- Kesadaran tidak otomatis menjelaskan semua fenomena manusia Ada kecenderungan untuk menjadikan kesadaran sebagai jawaban bagi hampir segala sesuatu. Seseorang gagal? «“Kesadarannya belum cukup.”» Seseorang sakit? «“Kesadarannya perlu ditingkatkan.”» Seseorang berada dalam hubungan buruk? «“Dia belum sadar.”» Seseorang mengalami masalah finansial? «“Kesadaran uangnya rendah.”» Seseorang memiliki masalah psikologis? «“Kesadarannya belum terbuka.”» Pernyataan seperti ini terdengar sederhana. Tetapi manusia jauh lebih kompleks. Perilaku manusia dapat dipengaruhi oleh: - faktor biologis; - lingkungan; - pembelajaran; - kondisi sosial; - pengalaman hidup; - hubungan interpersonal; - kondisi ekonomi; - kesehatan; - proses kognitif; - emosi; - dan banyak faktor lainnya. Tidak semua masalah dapat direduksi menjadi “kurang sadar”. --- Bahkan kesadaran tidak menghapus faktor biologis Ini penting terutama dalam pembahasan kesehatan mental. Memiliki pemahaman yang baik tentang diri sendiri tidak berarti seseorang kebal terhadap masalah psikologis. Kesadaran diri dapat membantu seseorang mengenali masalah. Namun mengenali masalah berbeda dengan menyelesaikannya. Dalam kondisi tertentu, seseorang mungkin membutuhkan: - edukasi; - dukungan sosial; - perubahan lingkungan; - konseling; - psikoterapi; - pemeriksaan medis; - atau intervensi profesional lainnya. Mengatakan: «“Tingkatkan kesadaranmu.”» tidak selalu cukup. Karena insight bukan satu-satunya faktor yang menentukan perubahan manusia. --- Kesadaran perlu dibicarakan sesuai konteks Mungkin pertanyaan yang lebih baik bukan: «“Seberapa tinggi kesadaran seseorang?”» Tetapi: «“Kesadaran terhadap apa?”» Kesadaran diri? Kesadaran emosi? Kesadaran sosial? Kesadaran tubuh? Kesadaran moral? Kesadaran lingkungan? Kesadaran spiritual? Kesadaran terhadap bias diri? Pertanyaan tersebut jauh lebih spesifik. Dan semakin spesifik istilahnya, semakin mudah kita membahasnya dengan jernih. --- Jangan mengubah semua perubahan menjadi “kesadaran” Seseorang mulai berolahraga. Apakah itu kesadaran tubuh? Mungkin. Seseorang mulai mengatur uang. Apakah itu kesadaran finansial? Bisa jadi. Seseorang mulai memahami pola hubungan yang tidak sehat. Apakah itu self-awareness? Mungkin. Seseorang menemukan makna hidup melalui agama. Apakah itu pengalaman spiritual? Bisa. Tetapi kita tidak perlu memaksakan semua perubahan tersebut ke dalam satu kategori besar bernama: «“kesadaran.”» Kadang-kadang sebuah konsep justru menjadi lebih jelas ketika kita tidak memaksanya menjadi satu istilah. --- Kesadaran membutuhkan kerendahan hati Ada ironi yang menarik. Semakin seseorang merasa: «“Saya sudah sangat sadar.”» semakin kita dapat bertanya: «“Seberapa sadar ia terhadap kemungkinan bahwa dirinya masih bisa keliru?”» Kesadaran yang sehat seharusnya memberi ruang untuk: - ketidakpastian; - koreksi; - pembelajaran; - perubahan perspektif; - dan pengakuan bahwa kita tidak mengetahui semuanya. Seseorang dapat memiliki pemahaman yang dalam sekaligus tetap berkata: «“Saya mungkin salah.”» Itu bukan kelemahan. Itu justru menunjukkan kemampuan untuk terus belajar. --- Jadi, apa sebenarnya masalahnya? Masalahnya bukan karena kata kesadaran terlalu sering digunakan. Masalahnya adalah ketika satu kata digunakan untuk menjelaskan terlalu banyak hal tanpa definisi yang jelas. Ketika: self-awareness → spiritual awakening insight → enlightenment ketenangan → kesadaran tinggi perubahan perilaku → kenaikan vibrasi keyakinan → fakta tentang kesadaran semuanya dicampur menjadi satu. Di situlah kita mulai kehilangan ketepatan. --- Kesimpulan Kesadaran adalah konsep yang penting dan kompleks. Tetapi justru karena penting, kita perlu menggunakannya dengan hati-hati. Tidak semua introspeksi adalah “kesadaran tinggi”. Tidak semua pengalaman spiritual adalah peningkatan kesadaran. Tidak semua perubahan perilaku menunjukkan tingkat kesadaran tertentu. Tidak semua orang yang berbicara tentang kesadaran memahami konsepnya secara ilmiah. Dan tidak semua masalah manusia dapat dijelaskan dengan kalimat: «“Kamu hanya perlu lebih sadar.”» Mungkin yang lebih sehat adalah kembali pada pertanyaan sederhana: «“Sadar terhadap apa?”» Karena ketika semua hal disebut kesadaran, kita bukan hanya kehilangan definisi. Kita juga berisiko kehilangan kemampuan untuk membedakan: pengalaman, kesadaran diri, insight, keyakinan, spiritualitas, perubahan perilaku, dan pengetahuan ilmiah. Dan pada akhirnya, kesadaran bukan tentang memiliki label yang lebih tinggi. Kesadaran justru dapat dimulai dari kemampuan untuk melihat diri sendiri dengan cukup jernih untuk mengatakan: «“Saya tahu beberapa hal. Saya belum tahu banyak hal lainnya. Dan saya masih bisa belajar.”» Tidak semua yang terasa dalam adalah kesadaran. Tidak semua yang disebut “sadar” adalah konsep ilmiah. Dan tidak semua orang yang mengaku sudah sadar harus kita anggap lebih tahu. Kadang-kadang, kesadaran justru dimulai ketika kita berhenti memberi nama pada segala sesuatu—dan mulai benar-benar memahami apa yang sedang terjadi. JiwaSehat — satu manusia, banyak dimensi, banyak ilmu.