Mengapa Kanker Payudara Semakin Banyak?
Belakangan ini, kita semakin sering mendengar tentang perempuan yang didiagnosis kanker payudara—bahkan pada usia yang relatif muda.
Lalu muncul pertanyaan yang wajar: apakah kanker payudara memang semakin banyak, atau kita hanya semakin sering mendengarnya?
Jawabannya tidak sesederhana satu faktor. Namun, data menunjukkan bahwa kanker payudara memang menjadi salah satu beban kesehatan terbesar bagi perempuan di Indonesia.
Kanker payudara di Indonesia
Menurut Global Cancer Observatory (GLOBOCAN), pada 2022 terdapat sekitar 66.271 kasus baru kanker payudara di Indonesia. Angka tersebut menjadikan kanker payudara sebagai kanker yang paling banyak ditemukan pada perempuan Indonesia, sekitar 30,1% dari seluruh kasus kanker pada perempuan.
Kementerian Kesehatan juga mencatat bahwa kanker payudara menjadi salah satu penyumbang kematian akibat kanker yang tinggi di Indonesia. Masalahnya bukan hanya jumlah kasus, tetapi juga kenyataan bahwa banyak pasien datang ketika penyakit sudah berada pada tahap lanjut.
Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya “mengapa semakin banyak?”, tetapi juga:
“Mengapa sebagian kasus baru diketahui ketika sudah terlambat?”
Apakah kanker payudara sekarang semakin sering menyerang perempuan muda?
Kanker payudara dapat terjadi pada perempuan setelah masa pubertas pada berbagai usia. Risiko secara umum meningkat seiring bertambahnya usia, tetapi usia muda bukan berarti seseorang kebal terhadap kanker payudara.
Ketika kita melihat semakin banyak cerita tentang perempuan usia 30-an atau 40-an yang terkena kanker, kita perlu berhati-hati dalam menarik kesimpulan.
Meningkatnya jumlah kasus yang terlihat dapat dipengaruhi oleh berbagai hal: perubahan jumlah dan struktur penduduk, semakin baiknya kemampuan diagnosis, meningkatnya kesadaran untuk memeriksakan diri, serta perubahan berbagai faktor risiko.
Jadi, tidak tepat mengatakan bahwa semua kanker payudara pada perempuan muda disebabkan oleh gaya hidup modern.
Apa saja yang meningkatkan risiko?
Kanker merupakan penyakit yang kompleks. Tidak ada satu penyebab tunggal yang dapat menjelaskan semua kasus.
WHO menyebut beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko kanker payudara, antara lain bertambahnya usia, obesitas, konsumsi alkohol, riwayat keluarga, paparan radiasi tertentu, faktor reproduksi, penggunaan tembakau, serta terapi hormon setelah menopause.
Faktor genetik juga berperan pada sebagian kasus. Mutasi bawaan pada gen tertentu seperti BRCA1, BRCA2, dan PALB2 dapat meningkatkan risiko.
Namun ada fakta yang sering terlupakan:
Sebagian besar perempuan yang mengalami kanker payudara tidak memiliki riwayat keluarga kanker payudara yang jelas. Bahkan WHO memperkirakan sekitar 80% kanker payudara terjadi pada perempuan tanpa faktor risiko spesifik selain jenis kelamin dan usia.
Artinya, tidak memiliki keluarga dengan kanker payudara bukan berarti risiko menjadi nol.
Bagaimana dengan stres?
Ini menjadi pertanyaan yang sering muncul dalam pembahasan kesehatan holistik.
Stres kronis memang dapat memengaruhi kesehatan secara luas, termasuk tidur, pola makan, aktivitas fisik, metabolisme, dan perilaku kesehatan.
Tetapi kita harus berhati-hati dengan kalimat seperti:
“Stres menyebabkan kanker payudara.”
Klaim tersebut terlalu sederhana.
Kanker merupakan proses biologis kompleks yang melibatkan perubahan pada sel, gen, lingkungan mikro tumor, sistem imun, hormon, serta berbagai faktor lainnya.
Karena itu, seseorang yang mengalami kanker tidak boleh dibuat merasa bahwa penyakitnya terjadi karena ia kurang bahagia, terlalu banyak berpikir, menyimpan emosi, atau gagal mengelola stres.
Pendekatan kesehatan yang baik seharusnya membantu seseorang memahami tubuhnya—bukan menyalahkan dirinya.
Mengapa deteksi dini begitu penting?
Salah satu masalah besar kanker payudara adalah penyakit ini dapat berkembang tanpa rasa sakit yang jelas.
Benjolan yang mencurigakan bahkan dapat muncul tanpa rasa nyeri.
Perubahan yang perlu diperhatikan antara lain:
- benjolan atau penebalan baru pada payudara
- perubahan ukuran atau bentuk payudara
- perubahan pada kulit, seperti cekungan atau perubahan tekstur
- perubahan bentuk puting
- keluarnya cairan yang tidak biasa atau berdarah dari puting
- benjolan atau pembengkakan pada area ketiak
WHO menekankan bahwa benjolan payudara yang tidak normal perlu diperiksa meskipun tidak terasa sakit. Sebagian besar benjolan memang bukan kanker, tetapi pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Jangan menunggu sampai sakit
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menunggu sampai benjolan terasa sakit atau ukurannya membesar.
Padahal tujuan deteksi dini justru menemukan kelainan sebelum kondisi berkembang lebih jauh.
Deteksi dini terdiri dari dua pendekatan: mengenali tanda dan gejala sehingga diagnosis dapat dilakukan lebih cepat, serta program skrining pada kelompok yang sesuai. WHO menekankan bahwa diagnosis dan terapi yang lebih awal dapat meningkatkan kemungkinan keberhasilan pengobatan.
Pemeriksaan yang tepat bergantung pada usia, gejala, faktor risiko, dan kondisi masing-masing perempuan. Karena itu, jangan menentukan sendiri apakah suatu benjolan “aman” hanya berdasarkan informasi dari media sosial.
Menjaga kesehatan bukan berarti hidup dalam ketakutan
Membicarakan kanker payudara bukan berarti mengajak perempuan untuk mencurigai setiap perubahan tubuh sebagai kanker.
Sebaliknya, kita sedang belajar lebih sadar terhadap tubuh sendiri.
Menjaga berat badan yang sehat, aktif bergerak, tidak merokok, membatasi alkohol, menjalani pola hidup sehat, memahami riwayat kesehatan keluarga, dan mengikuti rekomendasi pemeriksaan sesuai kondisi masing-masing merupakan bagian dari upaya mengurangi risiko.
Namun, bahkan perempuan yang menjalani gaya hidup sehat tetap dapat mengalami kanker payudara.
Karena itu, jangan pernah menyalahkan pasien dengan mengatakan:
“Pasti karena pola hidupnya.”
Dan jangan pula memberikan janji bahwa makanan, herbal, afirmasi, atau metode tertentu dapat menggantikan pemeriksaan dan terapi medis.
Kesehatan holistik seharusnya bukan memilih antara tubuh dan pikiran.
Kita merawat keduanya—dengan kesadaran dan berdasarkan bukti.
Sebuah pengingat untuk setiap perempuan
Kanker payudara bukan hanya persoalan angka statistik.
Di balik setiap angka ada seorang perempuan, keluarga, pekerjaan, impian, dan kehidupan yang sedang dijalani.
Karena itu, mengenali tubuh bukanlah tindakan berlebihan.
Memeriksakan perubahan yang tidak biasa bukan berarti panik.
Dan mendapatkan diagnosis lebih awal bukan berarti kehilangan harapan.
Justru sebaliknya.
Semakin cepat masalah dikenali, semakin cepat seseorang mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Jangan menunggu tubuh berteriak untuk mulai mendengarkannya.
Kenali. Periksa. Tangani. Jangan menunda.
Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, maupun rekomendasi dokter. Bila menemukan perubahan pada payudara yang baru atau menetap, konsultasikan dengan tenaga kesehatan.