PENSIUN & PASANGAN: KETIKA KITA TIBA-TIBA PUNYA BANYAK WAKTU BERSAMA

Gambar - PENSIUN & PASANGAN: KETIKA KITA TIBA-TIBA PUNYA BANYAK WAKTU BERSAMA
PENSIUN & PASANGAN: KETIKA KITA TIBA-TIBA PUNYA BANYAK WAKTU BERSAMA Dulu sibuk bekerja. Sekarang sama-sama di rumah. Kedengarannya menyenangkan. Tidak perlu terburu-buru berangkat kerja. Bisa sarapan bersama. Bisa jalan-jalan. Bisa lebih sering berbincang. Bisa melakukan hal-hal yang dulu selalu tertunda. Namun ada satu hal yang sering tidak dibicarakan dalam persiapan pensiun: «Bagaimana jika setelah pensiun, pasangan tiba-tiba punya jauh lebih banyak waktu bersama?» Pensiun bukan hanya perubahan dalam kehidupan individu. Bagi pasangan yang sudah lama menikah, pensiun juga dapat menjadi transisi dalam kehidupan bersama. Rutinitas berubah. Pembagian peran dapat berubah. Pola komunikasi berubah. Bahkan cara pasangan menggunakan ruang di rumah dapat berubah. Karena itu, pensiun bukan hanya tentang mempersiapkan seseorang menghadapi kehidupan setelah bekerja. Pasangan juga perlu mempersiapkan kehidupan setelah karier. --- DULU BERTEMU SETELAH PULANG KERJA, SEKARANG BERTEMU SEPANJANG HARI Selama masih bekerja, pasangan biasanya memiliki struktur kehidupan masing-masing. Pagi berangkat. Siang menjalani aktivitas. Sore atau malam kembali ke rumah. Ada jeda alami yang membuat masing-masing memiliki ruang. Setelah pensiun, pola tersebut dapat berubah. Pasangan yang sebelumnya bertemu beberapa jam sehari mungkin sekarang menghabiskan sebagian besar waktunya bersama. Perubahan ini bisa menjadi kesempatan yang indah. Tetapi juga membutuhkan proses adaptasi. Karena lebih banyak waktu bersama tidak otomatis berarti hubungan menjadi lebih dekat. Kualitas hubungan tetap bergantung pada bagaimana pasangan berkomunikasi, menghargai kebutuhan masing-masing, dan membangun kehidupan bersama. --- PENSIUN BISA MENJADI BABAK BARU DALAM PERNIKAHAN Ada pasangan yang justru menemukan kembali kedekatan setelah pensiun. Mereka mulai: - makan bersama; - berolahraga; - traveling; - berkebun; - memasak; - belajar; - mengikuti komunitas; - atau menjalankan proyek bersama. Kesibukan pekerjaan yang selama bertahun-tahun mengambil banyak waktu akhirnya berkurang. Pasangan memiliki kesempatan untuk mengenal satu sama lain kembali. Bukan lagi hanya sebagai: suami yang bekerja atau istri yang mengurus rumah, tetapi sebagai dua individu yang sedang memasuki fase kehidupan baru. Pensiun dapat menjadi kesempatan untuk bertanya: «“Setelah bertahun-tahun menjalani peran sebagai pekerja dan orang tua, kehidupan seperti apa yang ingin kita bangun sebagai pasangan?”» --- TETAPI JANGAN SAMPAI “BERSAMA” BERARTI “SELALU BERSAMA” Ini salah satu hal penting. Hubungan yang sehat tidak selalu membutuhkan kebersamaan setiap saat. Setiap orang tetap membutuhkan personal space. Ada aktivitas yang ingin dilakukan sendiri. Ada teman yang ingin ditemui sendiri. Ada hobi yang berbeda. Ada waktu untuk membaca. Ada waktu untuk berolahraga. Ada waktu untuk sekadar diam. Karena itu, pasangan perlu memahami: «Kebersamaan bukan berarti kehilangan individualitas.» Justru kemampuan untuk tetap menjadi diri sendiri dapat membantu hubungan tetap sehat. --- “KENAPA SEKARANG KOK BEDA?” Pensiun dapat membuat perubahan kecil dalam kehidupan sehari-hari menjadi lebih terlihat. Misalnya: “Kenapa sekarang harus sarapan jam segini?” “Kenapa rumah harus serapi itu?” “Kenapa kamu selalu mengatur kegiatan saya?” “Kenapa kamu sekarang lebih banyak di rumah?” “Kenapa saya tidak punya waktu sendiri?” Masalahnya terkadang bukan pada hal-hal tersebut. Masalah sebenarnya adalah belum adanya kesepakatan mengenai kehidupan baru. Selama bekerja, struktur kehidupan sudah banyak ditentukan oleh pekerjaan. Setelah pensiun, pasangan harus mulai merancang struktur tersebut bersama-sama. --- PERAN DI RUMAH JUGA PERLU DINEGOSIASIKAN ULANG Ketika seseorang berhenti bekerja, pembagian pekerjaan rumah dapat mengalami perubahan. Misalnya, seseorang yang selama ini bekerja penuh waktu mungkin mulai memiliki lebih banyak kesempatan membantu pekerjaan rumah. Namun jangan sampai muncul asumsi: «“Karena sudah pensiun, berarti sekarang semua pekerjaan rumah menjadi tanggung jawabmu.”» Sebaliknya: «“Karena sekarang kita sama-sama punya waktu, mari kita bicarakan pembagian yang terasa adil bagi kita berdua.”» Pembagian peran sebaiknya dibicarakan berdasarkan: - kemampuan; - kesehatan; - kebiasaan; - preferensi; - dan kondisi masing-masing. Pensiun adalah kesempatan untuk menegosiasikan ulang kerja sama, bukan otomatis mengubah satu orang menjadi “pengurus rumah penuh waktu”. --- JANGAN MEMAKSA PASANGAN MEMILIKI HOBI YANG SAMA Pasangan tidak harus menyukai semua hal yang sama. Suami mungkin suka memancing. Istri mungkin suka berkebun. Suami ingin traveling. Istri ingin mengikuti komunitas. Satu orang suka olahraga. Yang lain lebih suka membaca. Tidak masalah. Hubungan yang sehat tidak membutuhkan dua orang dengan seluruh minat yang sama. Yang dibutuhkan adalah kemampuan mengatakan: «“Kita boleh berbeda, tetapi kita tetap bisa hidup bersama dengan saling menghargai.”» Bahkan perbedaan minat dapat membuat hubungan lebih menarik karena masing-masing tetap membawa dunia pribadinya ke dalam hubungan. --- BUAT “AKTIVITAS BERSAMA” DAN “AKTIVITAS PRIBADI” Salah satu cara sederhana untuk beradaptasi adalah membagi aktivitas menjadi dua kelompok. AKTIVITAS BERSAMA Misalnya: - olahraga; - traveling; - memasak; - berkebun; - makan bersama; - kegiatan sosial; - menonton film; - belajar sesuatu. AKTIVITAS PRIBADI Misalnya: - membaca; - bertemu teman; - menjalankan hobi; - bekerja secara mandiri; - mengikuti komunitas; - melakukan aktivitas spiritual; - atau sekadar menikmati waktu sendiri. Dengan demikian, kehidupan setelah pensiun tidak menjadi: 100% bersama atau 100% sendiri. Tetapi memiliki keseimbangan. --- KETIKA ANAK SUDAH DEWASA, PUSAT KEHIDUPAN KEMBALI KE PASANGAN Bagi pasangan yang anak-anaknya sudah dewasa dan mulai memiliki kehidupan sendiri, masa pensiun dapat menghadirkan perubahan tambahan. Rumah yang dahulu ramai bisa menjadi lebih sepi. Rutinitas mengurus anak berkurang. Perhatian yang selama ini banyak tertuju pada keluarga inti dapat kembali lebih banyak kepada pasangan. Ini dapat menjadi kesempatan untuk membangun kembali hubungan yang mungkin selama bertahun-tahun lebih banyak berfokus pada pekerjaan dan pengasuhan. Bukan berarti harus kembali menjadi pasangan seperti saat awal menikah. Justru pertanyaannya: «“Siapa kita sekarang, setelah melewati begitu banyak fase kehidupan?”» --- JANGAN MENGGUNAKAN PENSIUN UNTUK MENGONTROL PASANGAN Ini juga penting. Lebih banyak waktu bersama bukan berarti seseorang berhak mengatur seluruh aktivitas pasangannya. “Sekarang kan sudah pensiun.” “Sekarang kan sudah di rumah.” “Harusnya kamu selalu menemani saya.” Kalimat-kalimat semacam ini dapat mengubah kebersamaan menjadi tekanan. Pasangan tetap memiliki hak untuk memiliki: waktu pribadi, pertemanan, aktivitas, hobi, dan ruang psikologis. Pensiun seharusnya memperluas kualitas kehidupan, bukan mempersempit kebebasan masing-masing. --- BICARAKAN HAL-HAL YANG SELAMA INI DITUNDA Masa pensiun dapat menjadi waktu yang baik untuk membicarakan hal-hal yang selama bertahun-tahun mungkin tertunda. Misalnya: KEUANGAN Bagaimana gaya hidup setelah pendapatan berubah? KESEHATAN Bagaimana kita ingin menjaga kesehatan masing-masing? TEMPAT TINGGAL Apakah tetap tinggal di rumah sekarang? KELUARGA Bagaimana hubungan dengan anak dan keluarga besar? AKTIVITAS Apa yang ingin kita lakukan bersama? PERSONAL SPACE Berapa banyak waktu yang ingin kita gunakan untuk aktivitas masing-masing? MASA DEPAN Seperti apa kehidupan yang ingin kita bangun dalam 5–10 tahun ke depan? Percakapan seperti ini bukan tanda hubungan bermasalah. Justru dapat menjadi bentuk perencanaan kehidupan bersama. --- “DATE” TIDAK HARUS MENUNGGU LIBURAN Menjadi pasangan setelah pensiun tidak harus berarti melakukan perjalanan mahal. Kencan bisa sangat sederhana. Sarapan bersama. Berjalan pagi. Makan siang di tempat baru. Mengunjungi taman. Memasak bersama. Menonton film. Mengobrol tanpa gawai. Atau sekadar duduk bersama menikmati sore. Yang penting bukan harga aktivitasnya. Yang penting adalah perhatian dan kehadiran. --- MEMBANGUN “NEW COUPLE ROUTINE” Pasangan dapat membuat rutinitas baru setelah pensiun. Misalnya: Setiap pagi: berjalan bersama. Seminggu sekali: quality time tanpa membahas masalah rumah tangga. Sebulan sekali: mencoba aktivitas baru. Beberapa bulan sekali: perjalanan singkat. Setiap minggu: masing-masing memiliki waktu pribadi. Tidak harus persis seperti itu. Yang penting adalah pasangan memiliki kesempatan untuk merancang pola kehidupan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. --- JANGAN MENGANGGAP KONFLIK SEBAGAI KEGAGALAN Perubahan rutinitas dapat memunculkan konflik. Itu tidak otomatis berarti pernikahan gagal. Kadang konflik muncul karena dua orang sedang belajar menyesuaikan diri dengan situasi baru. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana konflik tersebut dikelola. Apakah pasangan bisa berdiskusi? Apakah masing-masing bisa mendengarkan? Apakah kebutuhan dapat disampaikan tanpa merendahkan? Apakah ada ruang untuk kompromi? Apakah batas pribadi dihormati? Jika konflik menjadi berat, berlangsung terus-menerus, atau mengganggu kehidupan sehari-hari, pasangan dapat mempertimbangkan mencari bantuan profesional yang sesuai. --- RETIREMENT COUPLE MAP Sebelum memasuki masa pensiun, pasangan dapat membuat Retirement Couple Map. Jawab bersama pertanyaan berikut: 1. KITA INGIN MENJALANI PAGI SEPERTI APA? --- 2. AKTIVITAS APA YANG INGIN KITA LAKUKAN BERSAMA? --- 3. AKTIVITAS APA YANG INGIN KITA LAKUKAN SENDIRI? --- 4. BAGAIMANA PEMBAGIAN PERAN DI RUMAH? --- 5. BAGAIMANA KITA MENGELOLA KEUANGAN? --- 6. BAGAIMANA KITA MENJAGA KESEHATAN? --- 7. APA YANG INGIN KITA PELAJARI? --- 8. KE MANA KITA INGIN PERGI? --- 9. APA YANG INGIN KITA KONTRIBUSIKAN? --- 10. SEPERTI APA HUBUNGAN KITA 5 TAHUN DARI SEKARANG? --- Tidak perlu menemukan semua jawabannya dalam satu percakapan. Yang penting adalah mulai berbicara. --- PENSIUN BISA MENJADI KESEMPATAN UNTUK “BERKENALAN KEMBALI” Pernikahan yang telah berjalan puluhan tahun bukan berarti dua orang sudah selesai mengenal satu sama lain. Manusia terus berubah. Prioritas berubah. Tubuh berubah. Minat berubah. Kebutuhan berubah. Cara memandang kehidupan juga dapat berubah. Karena itu, masa pensiun dapat menjadi kesempatan untuk kembali bertanya kepada pasangan: «“Sekarang kamu ingin menjalani hidup seperti apa?”» Dan mungkin kita akan menemukan bahwa orang yang selama ini kita kenal ternyata masih memiliki banyak cerita, impian, dan keinginan yang belum pernah kita dengar. --- PENUTUP Pensiun dapat menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan pernikahan. Bagi sebagian pasangan, ini adalah kesempatan untuk kembali menikmati waktu bersama. Bagi pasangan lain, ini mungkin menjadi masa adaptasi yang tidak selalu mudah. Keduanya manusiawi. Yang penting bukan memaksakan gambaran bahwa pensiun harus selalu romantis. Yang penting adalah mempersiapkan pasangan untuk menjalani perubahan tersebut secara sadar. Karena setelah puluhan tahun bekerja, pasangan akhirnya mungkin memiliki lebih banyak waktu bersama. Pertanyaannya bukan: «“Bagaimana supaya kita selalu bersama?”» Tetapi: «“Bagaimana kita bisa tetap menjadi dua individu yang sehat, sekaligus membangun kehidupan bersama yang bermakna?”» Sebab dalam hubungan yang sehat: bersama bukan berarti kehilangan diri, mandiri bukan berarti menjauh, dan pensiun bukan berarti kehidupan berhenti. Pensiun dapat menjadi awal dari babak baru: Bukan hanya retirement life, tetapi retirement relationship. JiwaSehat — Mental • Emosi • Tubuh • Hidup