PENTINGNYA INVESTASI KESEHATAN MENTAL DAN JIWA

Gambar - PENTINGNYA INVESTASI KESEHATAN MENTAL DAN JIWA
PENTINGNYA INVESTASI KESEHATAN MENTAL DAN JIWA Mengapa Merawat Pikiran, Emosi, dan Relasi Merupakan Bagian dari Investasi Kehidupan? Abstrak Kesehatan mental sering baru diperhatikan ketika seseorang mengalami gangguan psikologis, krisis, atau penurunan fungsi yang nyata. Padahal, dalam perspektif kesehatan masyarakat, kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan ketiadaan gangguan mental, tetapi juga dengan kemampuan individu menghadapi tekanan kehidupan, belajar, bekerja, membangun hubungan, dan berkontribusi dalam komunitas. World Health Organization (WHO) menempatkan promosi dan pencegahan kesehatan mental sebagai bagian penting dari pendekatan kesehatan sepanjang kehidupan. Istilah “investasi kesehatan mental dan jiwa” bukan istilah diagnostik atau konstruk ilmiah tersendiri. Namun konsep tersebut dapat digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan upaya yang dilakukan secara sadar untuk mempertahankan dan meningkatkan kapasitas psikologis, mengurangi faktor risiko, memperkuat faktor protektif, serta memperoleh bantuan profesional ketika diperlukan. Bukti penelitian menunjukkan bahwa intervensi promosi dan pencegahan kesehatan mental tertentu dapat bersifat cost-effective, sementara peningkatan akses terhadap penanganan depresi dan kecemasan juga dapat memberikan manfaat kesehatan dan ekonomi. Artikel ini membahas mengapa kesehatan mental layak diperlakukan sebagai aset kehidupan, apa yang dimaksud dengan investasi mental, batas antara perawatan diri dan layanan profesional, serta mengapa menjaga kesehatan mental tidak boleh direduksi menjadi sekadar “berpikir positif”. Kata kunci: kesehatan mental, mental well-being, promosi kesehatan mental, pencegahan, resiliensi, psikoterapi, kesehatan psikologis, investasi kesehatan. --- 1. Mengapa Kita Menyebutnya “Investasi”? Kata investasi biasanya digunakan dalam konteks ekonomi. Kita menginvestasikan uang dengan harapan memperoleh manfaat di masa depan. Namun dalam kehidupan manusia, terdapat bentuk investasi lain: - pendidikan; - kesehatan; - keterampilan; - hubungan sosial; - dan kapasitas psikologis. Investasi kesehatan mental berarti mengalokasikan waktu, perhatian, sumber daya, dan bila diperlukan biaya profesional untuk menjaga atau meningkatkan fungsi psikologis. Tujuannya bukan sekadar: «“Supaya saya selalu bahagia.”» Melainkan agar seseorang memiliki kapasitas yang lebih baik untuk: - menghadapi tekanan; - beradaptasi terhadap perubahan; - mengenali kebutuhan diri; - mempertahankan fungsi sehari-hari; - membangun relasi; - mengambil keputusan; - dan mencari bantuan ketika menghadapi masalah yang melampaui kemampuan koping pribadi. WHO mendefinisikan kesehatan mental sebagai keadaan kesejahteraan mental yang memungkinkan seseorang menghadapi tekanan kehidupan, mengenali kemampuan dirinya, belajar dan bekerja dengan baik, serta berkontribusi kepada komunitas. --- 2. Kesehatan Mental Bukan Sekadar Tidak Memiliki Gangguan Mental Ini merupakan salah satu miskonsepsi yang penting. Seseorang mungkin: «tidak memiliki diagnosis gangguan mental,» tetapi tetap mengalami: - stres berat; - kelelahan psikologis; - kesepian; - konflik relasional; - kesulitan beradaptasi; - kehilangan motivasi; - atau penurunan kesejahteraan. Sebaliknya, seseorang yang memiliki gangguan mental dapat tetap memiliki kemampuan, hubungan, tujuan hidup, dan area kehidupan yang berfungsi dengan baik. Karena itu, kesehatan mental dan gangguan mental bukan dua kategori yang selalu identik. WHO secara eksplisit menempatkan kesehatan mental sebagai sesuatu yang lebih luas daripada sekadar ketiadaan gangguan mental. --- 3. Mental Health ≠ Selalu Bahagia Investasi kesehatan mental bukan investasi untuk membuat manusia: «selalu bahagia.» Emosi negatif merupakan bagian normal dari pengalaman manusia. Kita dapat mengalami: - sedih; - kecewa; - takut; - marah; - cemas; - kehilangan; - frustrasi. Kehadiran emosi tersebut tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan mental. Yang menjadi perhatian klinis antara lain adalah intensitas, durasi, konteks, distress, gangguan fungsi, dan risiko. Karena itu: «Tujuan kesehatan mental bukan menghapus semua emosi negatif.» Lebih tepat jika kita berbicara mengenai kemampuan menjalani kehidupan dengan kapasitas psikologis yang memadai, sekaligus mendapatkan bantuan ketika muncul masalah yang signifikan. --- 4. Apa yang Dimaksud dengan “Investasi Kesehatan Mental”? Secara praktis, investasi kesehatan mental dapat mencakup beberapa lapisan. Lapisan pertama: pemeliharaan Misalnya: - tidur yang cukup; - aktivitas fisik; - pola hidup sehat; - waktu pemulihan; - aktivitas bermakna; - hubungan sosial yang sehat. Lapisan kedua: pengembangan kapasitas Misalnya: - meningkatkan keterampilan regulasi emosi; - belajar komunikasi; - meningkatkan pemecahan masalah; - mengembangkan literasi kesehatan mental; - belajar mengenali pola perilaku. Lapisan ketiga: pencegahan Mengidentifikasi dan mengurangi faktor risiko sebelum masalah berkembang menjadi lebih berat. Lapisan keempat: intervensi profesional Ketika seseorang mengalami masalah yang signifikan, bantuan profesional dapat diperlukan. Ini dapat meliputi: - asesmen; - psikoterapi; - konseling dalam konteks yang sesuai; - layanan psikiatri; - atau intervensi kesehatan lainnya. WHO menekankan bahwa promosi dan pencegahan kesehatan mental melibatkan faktor individual, sosial, lingkungan, dan struktural—bukan hanya kemauan individu. --- 5. Jangan Mengubah Kesehatan Mental Menjadi “Tanggung Jawab Pribadi” Semata Ini sangat penting. Kesehatan mental bukan hanya persoalan: «“Kamu kurang kuat.”» Faktor yang memengaruhi kesehatan mental dapat berasal dari berbagai tingkat. WHO mencatat faktor risiko dan faktor protektif berada pada tingkat individu, keluarga, komunitas, dan struktur sosial. Faktor seperti kemiskinan, kekerasan, diskriminasi, isolasi sosial, kondisi kerja, dan akses terhadap layanan dapat memengaruhi kesehatan mental. Maka seseorang tidak selalu dapat menyelesaikan masalah mentalnya hanya dengan: «berpikir positif,» «meditasi,» «journaling,» atau «“mengubah mindset”.» Teknik tersebut mungkin bermanfaat bagi sebagian orang dalam konteks tertentu. Tetapi faktor sosial dan struktural tetap penting. --- 6. Investasi Mental Tidak Sama dengan Self-Care Semata Istilah self-care sangat populer. Tetapi self-care bukan sinonim dari seluruh kesehatan mental. Self-care dapat mencakup aktivitas seperti: - beristirahat; - melakukan aktivitas menyenangkan; - menjaga rutinitas; - berolahraga; - berinteraksi dengan orang lain. Semua itu dapat menjadi bagian dari pemeliharaan kesehatan. Namun jika seseorang mengalami gejala berat, gangguan fungsi, atau risiko keselamatan, self-care saja mungkin tidak memadai. Misalnya seseorang mengalami depresi berat. Memberinya saran: «“Coba healing.”» «“Jalan-jalan.”» «“Pikirkan hal positif.”» tidak dapat menggantikan asesmen dan penanganan klinis ketika memang dibutuhkan. Inilah batas penting antara well-being practice dan layanan kesehatan mental profesional. --- 7. Mengapa Pencegahan Penting? Dalam kesehatan masyarakat, mencegah atau mengurangi risiko dapat menjadi strategi yang penting. Namun pencegahan kesehatan mental tidak berarti: «“Kita dapat mencegah semua gangguan mental.”» Tidak. Banyak gangguan memiliki penyebab yang kompleks dan melibatkan interaksi berbagai faktor biologis, psikologis, sosial, dan lingkungan. Karena itu, pencegahan lebih tepat dipahami sebagai upaya: «mengurangi faktor risiko dan memperkuat faktor protektif ketika memungkinkan.» WHO membedakan pendekatan promosi kesehatan mental dan pencegahan gangguan mental, meskipun keduanya dapat saling berhubungan dalam praktik. --- 8. Apakah Investasi Mental Memiliki “Return”? Menariknya, pertanyaan ini tidak hanya bersifat filosofis. Ia juga telah dipelajari secara ekonomi kesehatan. Sebuah analisis global yang diterbitkan dalam The Lancet Psychiatry memodelkan peningkatan akses terhadap pengobatan depresi dan kecemasan di 36 negara. Studi tersebut memperkirakan bahwa investasi sebesar US$147 miliar untuk meningkatkan cakupan pengobatan selama periode 2016–2030 akan menghasilkan manfaat kesehatan dan ekonomi yang besar. Rasio manfaat-biaya yang dimodelkan berkisar 2,3–3,0 banding 1 jika hanya manfaat ekonomi yang dihitung, dan 3,3–5,7 banding 1 ketika nilai manfaat kesehatan juga dimasukkan. WHO kemudian merangkum temuan tersebut secara populer sebagai sekitar US$4 manfaat untuk setiap US$1 yang diinvestasikan dalam pengobatan depresi dan kecemasan, dengan manfaat berupa kesehatan dan kemampuan bekerja. Namun angka tersebut perlu dipahami dengan benar. Itu adalah hasil pemodelan ekonomi, bukan jaminan bahwa setiap orang yang mengeluarkan US$1 untuk kesehatan mental akan mendapatkan US$4 kembali secara pribadi. --- 9. Investasi Kesehatan Mental Tidak Selalu Berarti Uang Ini penting. Seseorang dapat berinvestasi pada kesehatan mental tanpa mengeluarkan banyak uang. Misalnya: membangun hubungan sosial yang sehat. belajar mengenali batas diri. memperbaiki pola tidur. berolahraga. mengembangkan keterampilan regulasi emosi. mengurangi paparan lingkungan yang sangat merusak ketika memungkinkan. mencari informasi kesehatan mental yang kredibel. mencari bantuan ketika masalah mulai mengganggu fungsi. Yang disebut investasi adalah sumber daya yang kita alokasikan untuk mempertahankan kapasitas hidup, bukan semata-mata nominal uang. --- 10. Hubungan Sosial Juga Merupakan Bagian Penting Manusia bukan sistem psikologis yang hidup sendirian. Relasi sosial merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan kesehatan mental dan kesehatan secara keseluruhan. WHO memasukkan interaksi sosial positif dan hubungan komunitas sebagai faktor protektif. Penelitian juga menunjukkan adanya hubungan antara isolasi sosial, kesepian, dan berbagai luaran kesehatan. Sebuah meta-analisis terhadap 90 studi kohort prospektif dengan lebih dari 2,2 juta individu menemukan bahwa isolasi sosial dan kesepian berkaitan dengan peningkatan risiko mortalitas semua penyebab pada populasi umum. Namun studi observasional semacam ini menunjukkan asosiasi, bukan membuktikan bahwa kesepian secara langsung menyebabkan kematian pada setiap individu. Artinya, investasi mental juga dapat berarti: «membangun dan mempertahankan hubungan yang sehat.» --- 11. Tetapi “Banyak Teman” Bukan Ukuran Kesehatan Mental Jumlah hubungan bukan satu-satunya hal penting. Seseorang dapat memiliki: 5000 followers tetapi tetap merasa sangat sendirian. Sebaliknya, seseorang dapat memiliki: dua atau tiga hubungan yang sangat bermakna dan merasa memiliki dukungan sosial yang memadai. Yang penting bukan hanya: «berapa banyak orang di sekitar kita,» tetapi juga: «apakah terdapat hubungan yang aman, bermakna, dan suportif?» Karena itu, kesehatan mental tidak dapat diukur hanya dari popularitas sosial. --- 12. Investasi Mental Juga Berarti Belajar Mengelola Stres Stres bukan selalu musuh. Respons stres merupakan bagian dari sistem adaptasi manusia. Dalam kadar tertentu, respons terhadap tuntutan dapat membantu seseorang menghadapi tantangan. Masalah muncul ketika tekanan menjadi terlalu berat, berkepanjangan, atau tidak diimbangi dengan pemulihan dan sumber daya yang memadai. WHO mencatat bahwa paparan terhadap chronic stress merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi kesehatan mental. Karena itu, investasi mental bukan berarti: «“Hidup tanpa stres.”» Tetapi: «membangun kapasitas dan kondisi yang membantu seseorang menghadapi stres secara lebih adaptif.» --- 13. Psychological Flexibility Lebih Penting daripada “Selalu Positif” Salah satu jebakan populer dalam pengembangan diri adalah toxic positivity. Misalnya: «“Jangan berpikir negatif.”» «“Semua harus positif.”» «“Kalau kamu masih sedih berarti mindset-mu salah.”» Secara psikologis, pendekatan tersebut terlalu sederhana. Manusia membutuhkan kemampuan untuk mengalami berbagai emosi tanpa harus menjadikan setiap emosi sebagai kegagalan. Investasi mental yang lebih sehat bukan: «menghilangkan semua emosi negatif,» melainkan membangun kemampuan untuk: - mengenali emosi; - memahami konteks; - mengatur respons; - mengambil keputusan; - dan tetap menjalankan nilai atau tujuan yang relevan. --- 14. Kapan Harus Berinvestasi pada Bantuan Profesional? Ada situasi ketika investasi kesehatan mental tidak lagi cukup berupa self-care. Misalnya ketika seseorang mengalami: - distress yang berat; - gangguan fungsi pekerjaan atau sekolah; - masalah hubungan yang signifikan; - perubahan perilaku yang mengkhawatirkan; - gejala psikologis yang menetap; - atau risiko terhadap keselamatan diri maupun orang lain. Dalam situasi seperti itu, pencarian bantuan profesional merupakan bagian dari respons kesehatan, bukan tanda kelemahan. WHO menegaskan bahwa banyak kondisi kesehatan mental dapat ditangani secara efektif, tetapi kesenjangan layanan masih besar di banyak tempat. --- 15. Intervensi Psikologis Juga Dapat Bersifat Preventif Intervensi psikologis tidak selalu harus menunggu seseorang berada dalam kondisi yang sangat berat. Penelitian mengenai pencegahan mulai berkembang. Sebuah systematic review dan individual participant data meta-analysis yang diterbitkan di The Lancet Psychiatry pada 2024 meneliti intervensi psikologis untuk mencegah munculnya episode depresi mayor pada orang dewasa. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pendekatan psikologis preventif merupakan bidang yang dapat diteliti secara empiris, bukan sekadar konsep pengembangan diri. Namun hasil penelitian harus tetap dibaca berdasarkan: - jenis intervensi; - populasi; - tingkat risiko; - kualitas penelitian; - dan ukuran hasil. Tidak ada satu intervensi yang cocok untuk semua orang. --- 16. Apakah Semua Investasi Mental Efektif? Tidak. Ini merupakan bagian penting dari literasi kesehatan mental. Sesuatu dapat disebut: «“healing,”» «“terapi,”» «“self-development,”» atau «“mental wellness”» tanpa otomatis memiliki bukti ilmiah yang kuat. Karena itu, investasi mental juga harus mencakup: «investasi pada kemampuan membedakan intervensi yang berbasis bukti dari klaim yang belum terbukti.» Sebuah systematic review terhadap 65 evaluasi ekonomi intervensi promosi dan pencegahan kesehatan mental menemukan bahwa banyak intervensi yang diteliti bersifat cost-effective atau cost-saving, tetapi terdapat heterogenitas yang besar dalam desain dan jenis intervensinya. Jadi bukan: «“Semua terapi mental pasti bagus.”» Melainkan: «“Intervensi perlu dinilai berdasarkan bukti, konteks, keamanan, dan kebutuhan individu.”» --- 17. Investasi Mental Bukan Berarti Membeli Kebahagiaan Kesehatan mental tidak dapat diperlakukan seperti produk: «bayar → bahagia.» Tidak ada metode yang menjamin seseorang akan: - tidak pernah cemas; - tidak pernah sedih; - tidak pernah mengalami trauma; - tidak pernah mengalami konflik; - atau selalu tenang. Karena manusia hidup dalam konteks. Kematian orang yang dicintai tetap menyakitkan. Perceraian dapat tetap menyakitkan. Kehilangan pekerjaan dapat tetap menimbulkan stres. Penyakit fisik dapat tetap memengaruhi psikologis. Investasi kesehatan mental bukan menghapus kenyataan hidup. Ia membantu manusia memiliki sumber daya psikologis dan sosial untuk menghadapi kenyataan tersebut. --- 18. Mental Health dan Physical Health Tidak Bisa Dipisahkan Secara Mutlak Tubuh dan kesehatan mental saling berhubungan. WHO menegaskan bahwa kesehatan mental merupakan bagian integral dari kesehatan dan dipengaruhi oleh faktor biologis, sosial, ekonomi, serta lingkungan. Karena itu, pendekatan kesehatan yang terlalu memisahkan: «“fisik”» dan «“mental”» dapat kehilangan sebagian gambaran manusia. Seseorang yang mengalami penyakit kronis dapat mengalami beban psikologis. Sebaliknya, masalah mental tertentu dapat memengaruhi tidur, aktivitas, perilaku kesehatan, pekerjaan, dan hubungan sosial. Pendekatan yang lebih tepat adalah melihat manusia secara biopsikososial, sambil tetap menjaga batas kompetensi masing-masing profesi kesehatan. --- 19. Investasi Mental Bukan Alasan untuk Menyalahkan Korban Ini juga penting. Jika kesehatan mental disebut sebagai “investasi pribadi”, jangan sampai muncul kesimpulan: «“Kalau mentalmu buruk berarti kamu tidak merawat dirimu.”» Kesimpulan tersebut tidak ilmiah. WHO menegaskan bahwa kesehatan mental dibentuk oleh interaksi berbagai determinan dan bahwa tidak ada satu faktor tunggal yang dapat memprediksi hasil kesehatan mental seseorang secara andal. Seseorang dapat sudah melakukan banyak hal dengan baik tetapi tetap mengalami gangguan mental. Sama seperti seseorang dapat menjaga kesehatan fisik tetapi tetap mengalami penyakit. Penyakit bukan selalu kegagalan seseorang merawat dirinya. --- 20. Apa yang Bisa Menjadi “Portofolio” Investasi Mental? Jika menggunakan bahasa investasi, kita dapat membuat metafora sederhana. Aset pertama: Kesadaran diri Mengenali: - emosi; - kebutuhan; - pola; - keterbatasan; - dan nilai pribadi. Aset kedua: Regulasi Kemampuan merespons emosi dan tekanan secara adaptif. Aset ketiga: Relasi Membangun hubungan yang suportif dan sehat. Aset keempat: Literasi Mampu mencari dan mengevaluasi informasi kesehatan mental. Aset kelima: Kompetensi Mengembangkan kemampuan menghadapi masalah dan mengambil keputusan. Aset keenam: Akses bantuan Mengetahui kapan dan ke mana harus mencari pertolongan. Aset ketujuh: Pemulihan Memiliki ruang untuk istirahat dan memulihkan kapasitas. Portofolio ini tidak harus sempurna. Yang penting adalah tidak hanya mengandalkan satu komponen. --- 21. Investasi yang Paling Sering Dilupakan: Meminta Bantuan Banyak orang menganggap: «“Saya harus kuat sendiri.”» Padahal kemampuan meminta bantuan dapat menjadi bagian dari kemampuan adaptasi. Meminta bantuan bukan berarti kehilangan kemandirian. Dalam banyak situasi, justru berarti seseorang mampu mengenali: «“Masalah ini sudah berada di luar kapasitas yang dapat saya tangani sendiri.”» Kesadaran seperti itu dapat mencegah masalah berkembang lebih jauh. --- 22. Jadi, Berapa Banyak yang Harus Kita Investasikan? Tidak ada angka universal. Tidak ada: «“30 menit per hari pasti membuat mental sehat.”» Tidak ada: «“Satu kali terapi cukup.”» Tidak ada: «“Satu seminar mengubah hidup.”» Kebutuhan setiap orang berbeda. Investasi kesehatan mental perlu mempertimbangkan: - kondisi individu; - kebutuhan; - tingkat risiko; - sumber daya; - lingkungan; - tujuan; - dan bila diperlukan penilaian profesional. --- 23. Prinsip Investasi Mental yang Lebih Ilmiah Jika ingin dibuat sederhana, kita dapat menggunakan lima prinsip. 1. Preventif Jangan hanya bertindak ketika krisis sudah terjadi. 2. Berbasis bukti Pilih informasi dan intervensi dengan mempertimbangkan bukti ilmiah. 3. Proporsional Masalah ringan dan kondisi klinis berat membutuhkan pendekatan yang berbeda. 4. Holistik Perhatikan faktor biologis, psikologis, sosial, dan lingkungan. 5. Berkelanjutan Kesehatan mental bukan proyek satu kali. Ia merupakan bagian dari kesehatan sepanjang kehidupan. WHO sendiri menggunakan pendekatan life-course dalam promosi dan pencegahan kesehatan mental. --- 24. Kesimpulan Kesehatan mental layak diperlakukan sebagai bagian dari investasi kehidupan. Bukan karena manusia harus selalu bahagia. Bukan karena setiap masalah dapat diselesaikan dengan mindset. Dan bukan karena kesehatan mental sepenuhnya berada di bawah kendali individu. Alasannya lebih mendasar: «Kapasitas psikologis memengaruhi bagaimana manusia belajar, bekerja, berhubungan, menghadapi tekanan, mengambil keputusan, dan menjalani kehidupan.» Bukti ilmiah menunjukkan bahwa promosi dan pencegahan kesehatan mental dapat memberikan manfaat kesehatan dan, pada intervensi tertentu, manfaat ekonomi. Penelitian ekonomi kesehatan juga menunjukkan bahwa peningkatan akses terhadap pengobatan depresi dan kecemasan dapat memberikan return yang berarti dalam model yang diteliti. Namun investasi mental harus tetap berpijak pada realitas: tidak semua metode efektif, tidak semua klaim “healing” ilmiah, tidak semua masalah dapat diselesaikan sendiri, dan tidak semua gangguan mental dapat dicegah. Karena itu, investasi terbaik bukan membeli sebanyak mungkin produk atau mengikuti sebanyak mungkin program. Investasi terbaik adalah: «membangun kapasitas, menjaga kesehatan, mengenali risiko, memilih informasi dengan kritis, memelihara hubungan yang sehat, dan mencari bantuan profesional ketika diperlukan.» --- JIWASEHAT Kita sering menghitung: berapa uang yang kita punya, berapa aset yang kita miliki, berapa investasi yang menghasilkan keuntungan. Tetapi ada satu aset yang sering baru kita hargai setelah terganggu: «kemampuan kita untuk menjalani hidup dengan sehat secara psikologis.» Kita merawat tubuh sebelum sakit. Kita melakukan pemeriksaan kesehatan. Kita membeli makanan bergizi. Kita berolahraga. Maka masuk akal pula jika kita belajar: mengenali emosi, merawat hubungan, mengembangkan kemampuan menghadapi tekanan, memahami diri, dan mencari bantuan ketika diperlukan. Bukan karena kita lemah. Tetapi karena kesehatan mental adalah bagian dari kesehatan manusia. Dan investasi terbesar bukan selalu membuat kita memiliki kehidupan tanpa masalah. Melainkan membantu kita memiliki kapasitas yang lebih baik untuk menghadapi kehidupan sebagaimana adanya. JiwaSehat — satu manusia, banyak dimensi, banyak ilmu. --- Referensi ilmiah utama 1. World Health Organization. Mental Health. WHO, 2026. 2. World Health Organization. World Mental Health Report: Transforming Mental Health for All. WHO, 2022. 3. Chisholm, D., et al. (2016). Scaling-up treatment of depression and anxiety: a global return on investment analysis. The Lancet Psychiatry, 3(5), 415–424. 4. Fuhr, D. C., et al. Cost-effectiveness evidence of mental health prevention and promotion interventions: A systematic review of economic evaluations. PLOS Medicine. 5. Buntrock, C., et al. (2024). Psychological interventions to prevent the onset of major depression in adults: a systematic review and individual participant data meta-analysis. The Lancet Psychiatry, 11(12), 990–1001. 6. Wang, F., et al. (2023). A systematic review and meta-analysis of 90 cohort studies of social isolation, loneliness and mortality. Nature Human Behaviour, 7, 1307–1319. 7. World Health Organization. Mental health promotion and prevention. WHO.