PSIKOLOGI KRIMINAL vs KRIMINOLOGI: APA BEDANYA?
Ketika berbicara tentang kejahatan, kita sering mendengar istilah psikologi kriminal, kriminologi, psikologi forensik, bahkan psikiatri forensik.
Karena sama-sama berhubungan dengan kejahatan dan hukum, istilah-istilah tersebut mudah dianggap sebagai hal yang sama.
Padahal, masing-masing memiliki fokus, pertanyaan, perspektif, dan ruang lingkup yang berbeda.
Memahami perbedaannya penting agar kita tidak terjebak pada anggapan bahwa semua ilmu yang mempelajari kriminalitas adalah ilmu yang sama.
---
1. Psikologi Kriminal: Melihat Perilaku dari Perspektif Psikologi
Psikologi kriminal berfokus pada aspek psikologis yang berkaitan dengan perilaku kriminal.
Pertanyaan yang dapat muncul antara lain:
- Bagaimana proses psikologis berkaitan dengan perilaku kriminal?
- Faktor individual apa yang mungkin berperan?
- Bagaimana pengambilan keputusan seseorang berkaitan dengan perilaku kriminal?
- Bagaimana regulasi emosi, impulsivitas, kognisi, dan perkembangan dapat dipahami dalam konteks kriminalitas?
- Faktor psikologis apa yang mungkin berkaitan dengan risiko pengulangan perilaku?
Dengan kata lain, pusat perhatiannya adalah manusia dan proses psikologisnya.
Namun, psikologi kriminal tidak berarti mencari satu “tipe otak kriminal” atau menentukan bahwa seseorang akan menjadi kriminal hanya berdasarkan kepribadiannya.
Perilaku manusia jauh lebih kompleks.
---
2. Kriminologi: Melihat Kejahatan sebagai Fenomena yang Lebih Luas
Kriminologi memiliki cakupan yang lebih luas dalam mempelajari kejahatan dan kriminalitas.
Kriminologi dapat memperhatikan:
- perilaku kriminal,
- pelaku,
- korban,
- pola kriminalitas,
- lingkungan sosial,
- faktor ekonomi,
- budaya,
- institusi sosial,
- sistem hukum,
- kebijakan,
- serta respons masyarakat terhadap kejahatan.
Karena itu, kriminologi bersifat interdisipliner.
Ia dapat memanfaatkan berbagai perspektif, termasuk sosiologi, psikologi, hukum, ekonomi, ilmu politik, statistik, dan bidang lainnya.
Jika psikologi kriminal bertanya:
«“Apa aspek psikologis yang berkaitan dengan perilaku kriminal?”»
Kriminologi dapat bertanya lebih luas:
«“Mengapa kejahatan terjadi dalam masyarakat, bagaimana polanya, siapa yang terdampak, dan bagaimana masyarakat serta sistem hukum meresponsnya?”»
---
3. Perbedaan Paling Sederhana
Bayangkan kita sedang melihat satu kasus kriminal.
Psikologi kriminal memperbesar lensa pada individu dan proses psikologis.
Perhatiannya dapat mencakup pola pikir, emosi, pengendalian impuls, perkembangan, kepribadian, pengambilan keputusan, serta berbagai faktor psikologis yang berkaitan dengan perilaku kriminal.
Sementara itu, kriminologi memperluas lensa pada kejahatan sebagai fenomena sosial.
Perhatiannya dapat mencakup pola kriminalitas, lingkungan, kondisi sosial, kesempatan melakukan kejahatan, korban, respons masyarakat, sistem peradilan, hingga kebijakan pencegahan kriminalitas.
Jadi, keduanya dapat membahas fenomena yang sama, tetapi pertanyaan yang diajukan dan sudut pandangnya berbeda.
---
4. Contoh Sederhana
Misalnya terjadi peningkatan pencurian di sebuah wilayah.
Seorang psikolog kriminal dapat tertarik pada pertanyaan:
«“Apa karakteristik psikologis dan proses perilaku yang berkaitan dengan individu yang melakukan pencurian?”»
Sementara seorang kriminolog dapat bertanya:
«“Mengapa pencurian meningkat di wilayah tersebut?”»
Kemudian dapat diteliti berbagai kemungkinan, seperti:
- kondisi ekonomi,
- lingkungan,
- kesempatan melakukan kejahatan,
- pola pengawasan,
- karakteristik wilayah,
- hubungan sosial,
- kebijakan,
- serta faktor lainnya.
Jadi:
Psikologi kriminal memperbesar lensa pada aspek psikologis individu.
Kriminologi memperluas lensa pada kejahatan sebagai fenomena individual sekaligus sosial.
---
5. Bagaimana dengan Psikologi Forensik?
Di sinilah istilah lain mulai muncul.
Psikologi forensik berhubungan dengan penerapan ilmu psikologi dalam konteks hukum dan sistem peradilan.
Ruang lingkupnya dapat mencakup:
- asesmen psikologis forensik,
- kesaksian dan memori,
- korban,
- anak dalam sistem hukum,
- penilaian risiko,
- isu keluarga dalam perkara hukum,
- serta pemberian pendapat ahli mengenai persoalan psikologis yang relevan dengan proses hukum.
Jadi psikologi forensik tidak identik dengan psikologi kriminal.
Seseorang dapat bekerja dalam bidang psikologi forensik tanpa secara khusus meneliti penyebab kriminalitas.
Sebaliknya, kajian psikologi kriminal tidak selalu berlangsung dalam ruang sidang.
---
6. Lalu Apa Hubungannya dengan Psikiatri Forensik?
Psikiatri forensik merupakan bidang kedokteran spesialisasi psikiatri yang bekerja pada persinggungan antara psikiatri dan hukum.
Ini penting dibedakan dari psikologi forensik.
Secara sederhana:
Psikologi forensik menggunakan ilmu dan metode psikologi dalam konteks hukum.
Psikiatri forensik menggunakan keahlian kedokteran dan psikiatri dalam konteks hukum.
Keduanya dapat bekerja sama, tetapi kompetensi profesionalnya berbeda.
---
7. Apakah Psikologi Kriminal Sama dengan Profiling?
Tidak.
Profiling kriminal sering digambarkan secara dramatis dalam film: seseorang melihat tempat kejadian perkara lalu langsung mengetahui kepribadian pelaku.
Kenyataan ilmiahnya tidak sesederhana itu.
Psikologi kriminal tidak dapat digunakan untuk mengatakan:
«“Orang dengan ciri wajah seperti ini kemungkinan kriminal.”»
Atau:
«“Orang yang tidak melakukan kontak mata pasti berbohong.”»
Atau:
«“Orang dengan kepribadian tertentu pasti melakukan kejahatan.”»
Kesimpulan semacam itu membutuhkan kehati-hatian karena perilaku tunggal tidak cukup untuk menggambarkan keseluruhan psikologi seseorang.
---
8. Kriminalitas Tidak Sama dengan Gangguan Mental
Kesalahpahaman lain yang sangat umum adalah:
kriminal = gangguan mental.
Ini tidak tepat.
Seseorang dapat melakukan tindak kriminal tanpa memiliki gangguan mental.
Sebaliknya, seseorang dengan gangguan mental tidak otomatis melakukan tindak kriminal.
Karena itu, kita perlu membedakan:
gangguan mental ≠ gangguan kepribadian ≠ perilaku kriminal ≠ karakter buruk.
Keempat konsep tersebut tidak dapat dipertukarkan begitu saja.
Diagnosis juga tidak dapat diberikan hanya berdasarkan konten media sosial, berita, potongan video, atau beberapa perilaku yang terlihat.
---
9. Apakah Masa Lalu Menentukan Seseorang Menjadi Kriminal?
Tidak.
Faktor masa kecil, keluarga, trauma, lingkungan, kemiskinan, kekerasan, pergaulan, atau pengalaman hidup tertentu dapat menjadi bagian dari penelitian mengenai faktor risiko.
Tetapi faktor risiko bukan takdir.
Dua orang dapat mengalami kondisi yang sama dan berkembang dengan cara yang berbeda.
Karena itu, kita perlu berhati-hati dengan pola pikir:
«“Dia mengalami masa kecil seperti itu, jadi pasti menjadi kriminal.”»
Tidak ada hubungan sesederhana itu.
Perilaku manusia merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang kompleks.
---
10. Memahami Perbedaannya melalui Cara Bertanya
Salah satu cara paling mudah untuk membedakan bidang-bidang tersebut adalah dengan melihat jenis pertanyaan yang mereka ajukan.
Jika pertanyaannya:
«“Apa aspek psikologis yang berkaitan dengan perilaku kriminal seseorang?”»
maka kita sedang mendekati perspektif psikologi kriminal.
Jika pertanyaannya:
«“Mengapa kejahatan tertentu terjadi dalam suatu masyarakat, bagaimana polanya, dan faktor sosial apa yang berkaitan dengannya?”»
maka kita sedang memasuki wilayah kriminologi.
Sementara jika pertanyaannya:
«“Apa yang dapat dijelaskan oleh ilmu psikologi mengenai persoalan tertentu dalam proses hukum?”»
maka kita dapat memasuki wilayah psikologi forensik.
Dan apabila pertanyaan tersebut berkaitan dengan diagnosis, kondisi kejiwaan, atau aspek psikiatri dalam persoalan hukum, maka psikiatri forensik dapat menjadi bidang yang relevan.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa satu kasus dapat dipelajari dari beberapa disiplin sekaligus.
Bukan karena bidang-bidang tersebut sama, tetapi karena satu fenomena manusia dapat memiliki banyak dimensi.
---
11. Mengapa Ketiga Bidang Ini Bisa Saling Bertemu?
Karena kejahatan adalah fenomena yang kompleks.
Satu kasus dapat melibatkan:
MANUSIA
↓
proses psikologis
↓
PSIKOLOGI KRIMINAL
MASYARAKAT
↓
lingkungan, budaya, ekonomi, sistem sosial
↓
KRIMINOLOGI
HUKUM
↓
asesmen, proses peradilan, pertanyaan psikologis
↓
PSIKOLOGI FORENSIK
Tidak ada satu bidang yang harus menjelaskan seluruh fenomena kriminalitas sendirian.
Justru pendekatan multidisipliner dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap.
---
12. Jangan Mencampuradukkan Penjelasan dengan Pembenaran
Ini adalah prinsip penting dalam memahami kriminalitas.
Ketika psikologi mempelajari:
«“Mengapa seseorang melakukan tindakan tertentu?”»
itu bukan berarti tindakan tersebut dibenarkan.
Memahami faktor psikologis tidak menghapus tanggung jawab.
Mempelajari faktor sosial juga tidak berarti menyalahkan masyarakat atas setiap tindakan individu.
Dan memahami kondisi seseorang tidak berarti mengabaikan korban.
Penjelasan ilmiah dan penilaian moral atau hukum adalah dua hal yang berbeda.
---
13. Mengapa JiwaSehat Perlu Membahasnya?
Karena istilah psikologi semakin sering digunakan di media sosial.
Kata-kata seperti:
psikopat, narsistik, sociopath, trauma, manipulatif, kriminal, toxic
sering digunakan secara bebas.
Padahal, istilah ilmiah memiliki konteks dan batas penggunaan.
JiwaSehat memandang penting untuk membangun literasi psikologi agar masyarakat dapat membedakan:
ilmu vs opini
diagnosis vs label
faktor risiko vs kepastian
penjelasan vs pembenaran
psikologi vs hukum
psikologi kriminal vs kriminologi
Semakin kita memahami perbedaannya, semakin kecil kemungkinan kita menilai manusia hanya berdasarkan label.
---
PENUTUP
Psikologi kriminal dan kriminologi sama-sama mempelajari kriminalitas, tetapi menggunakan lensa yang berbeda.
Psikologi kriminal lebih menyoroti aspek psikologis yang berkaitan dengan perilaku kriminal.
Kriminologi melihat kejahatan secara lebih luas sebagai fenomena yang melibatkan individu, masyarakat, lingkungan, institusi, dan sistem sosial.
Sementara psikologi forensik membawa ilmu psikologi ke dalam konteks hukum dan peradilan.
Ketiganya dapat bertemu, saling melengkapi, dan memiliki wilayah irisan.
Namun, memahami batas masing-masing bidang tetap penting.
Karena ketika kita berbicara tentang manusia, satu label tidak pernah cukup untuk menjelaskan keseluruhan cerita.
«Memahami kejahatan membutuhkan ilmu.
Memahami manusia membutuhkan kehati-hatian.
Dan memahami keduanya membutuhkan lebih dari sekadar label.»
JiwaSehat
Belajar memahami manusia.
Membedakan ilmu dari asumsi.
Dan melihat perilaku secara lebih utuh.