SIAPA YANG MENENTUKAN SEBUAH KLAIM ITU ILMIAH?

Gambar - SIAPA YANG MENENTUKAN SEBUAH KLAIM ITU ILMIAH?
SIAPA YANG MENENTUKAN SEBUAH KLAIM ITU ILMIAH? Memahami Otoritas, Metode, Bukti, Replikasi, dan Batas Pengetahuan Ilmiah Oleh: JiwaSehat Abstrak Di era informasi digital, istilah ilmiah semakin sering digunakan untuk memberikan legitimasi terhadap berbagai klaim mengenai psikologi, kesehatan, kesadaran, spiritualitas, perilaku, dan pengembangan diri. Persoalannya kemudian bukan hanya apakah sebuah pernyataan terdengar masuk akal, tetapi siapa dan berdasarkan apa suatu klaim dapat dikategorikan sebagai ilmiah. Artikel ini membahas bahwa status ilmiah sebuah klaim tidak ditentukan semata-mata oleh popularitas, gelar akademik, institusi, testimoni, maupun penggunaan terminologi ilmiah, melainkan melalui proses penyelidikan yang sistematis, transparan, dapat diperiksa, dan terbuka terhadap pengujian serta koreksi. Dalam ilmu pengetahuan, sebuah hasil penelitian individual merupakan titik awal, bukan akhir dari proses pembentukan pengetahuan. Replikasi, konfirmasi, evaluasi metodologis, sintesis bukti, dan kritik komunitas ilmiah berperan dalam meningkatkan atau menurunkan tingkat kepercayaan terhadap suatu klaim. Dengan demikian, klaim ilmiah lebih tepat dipahami sebagai kesimpulan dengan tingkat dukungan evidensial tertentu dan selalu terbuka terhadap revisi berdasarkan bukti baru. Kata kunci: klaim ilmiah, bukti empiris, metode ilmiah, peer review, replikasi, reproduksibilitas, epistemologi, literasi ilmiah. --- 1. Pendahuluan: Ketika Semua Klaim Terlihat “Ilmiah” Kita hidup dalam lingkungan informasi yang membuat sebuah klaim dapat tersebar jauh lebih cepat daripada proses untuk memeriksanya. Satu video dapat mengatakan: «“Penelitian membuktikan…”» Sebuah unggahan dapat menyebut: «“Menurut neuroscience…”» Seorang praktisi dapat mengatakan: «“Secara ilmiah, energi manusia…”» Sebuah produk dapat menggunakan istilah: «“berbasis neuro…”» Sementara sebuah pengalaman pribadi dapat dipresentasikan sebagai: «“bukti bahwa metode ini bekerja.”» Pertanyaannya: «Apakah penggunaan bahasa ilmiah membuat sebuah klaim menjadi ilmiah?» Tidak. Kata ilmiah bukan stempel yang dapat diberikan hanya karena seseorang menggunakan istilah seperti otak, neuron, trauma, DNA, energi, frekuensi, quantum, neuroplastisitas, atau kesadaran. Sebuah klaim menjadi ilmiah bukan karena siapa yang mengatakannya, tetapi terutama karena bagaimana klaim tersebut dibangun, diuji, dikritisi, dan didukung oleh bukti. --- 2. Jadi, Siapa yang Menentukan? Jawaban yang lebih tepat adalah: «Tidak ada satu orang atau satu lembaga yang secara tunggal menentukan apakah sebuah klaim ilmiah.» Ilmu pengetahuan bekerja sebagai proses sosial dan metodologis. Peneliti mengajukan pertanyaan. Hipotesis dirumuskan. Metode disusun. Data dikumpulkan. Analisis dilakukan. Hasil dilaporkan. Penelitian ditelaah. Hasil dibandingkan dengan penelitian lain. Peneliti lain dapat mencoba mereplikasi atau menguji kembali temuan tersebut. Kemudian keseluruhan bukti berkembang dari waktu ke waktu. National Academies menjelaskan bahwa temuan baru merupakan awal dari proses menuju pengetahuan ilmiah yang lebih kuat; komunitas ilmiah kemudian melakukan penelitian konfirmatori, menguji batas hasil awal, dan mengembangkan atau memperbaiki teori. Kepercayaan terhadap klaim meningkat atau menurun berdasarkan bagaimana klaim tersebut bertahan terhadap pengujian berulang. Dengan demikian, ilmu pengetahuan bukan sistem: «“Siapa yang paling berwenang, maka dia yang paling benar.”» Melainkan lebih dekat dengan: «“Klaim mana yang paling kuat didukung oleh bukti yang tersedia melalui metode yang dapat diperiksa?”» --- 3. Otoritas Tidak Sama dengan Bukti Seorang profesor dapat melakukan penelitian yang sangat baik. Seorang dokter dapat memberikan pendapat profesional. Seorang psikolog dapat memiliki pengalaman klinis selama puluhan tahun. Seorang akademisi dapat memiliki banyak publikasi. Semua itu dapat menjadi indikator kompetensi. Tetapi status seseorang tidak otomatis membuktikan setiap pernyataan yang ia buat. Ini merupakan prinsip penting dalam literasi ilmiah: «Kredibilitas pembicara dan kualitas bukti adalah dua hal yang berbeda.» Jika seorang ilmuwan mengatakan: «“Saya percaya fenomena X terjadi.”» kita tetap dapat bertanya: Apa dasar empirisnya? Sebaliknya, seseorang yang bukan ilmuwan mungkin memiliki pertanyaan yang sangat baik atau bahkan mengajukan hipotesis yang kemudian layak diteliti. Ilmu pengetahuan pada akhirnya tidak seharusnya bergantung pada: «“Siapa yang mengatakan?”» tetapi juga: «“Bagaimana kita mengetahuinya?”» --- 4. Metode Lebih Penting daripada Label Salah satu ciri penting penyelidikan ilmiah adalah penggunaan metode yang memungkinkan klaim diperiksa. Misalnya seseorang mengatakan: «“Metode X meningkatkan kesejahteraan psikologis.”» Pertanyaan ilmiahnya bukan: «“Siapa yang menciptakan metode X?”» Melainkan: - Apa yang dimaksud dengan “kesejahteraan psikologis”? - Bagaimana variabel tersebut diukur? - Siapa yang diteliti? - Berapa jumlah partisipannya? - Bagaimana partisipan dipilih? - Apakah ada kelompok pembanding? - Bagaimana data dianalisis? - Apakah hasilnya dapat direplikasi? - Apakah ada penjelasan alternatif? Dengan demikian, klaim ilmiah membutuhkan operasionalisasi. Istilah yang abstrak harus diterjemahkan menjadi sesuatu yang dapat diteliti. --- 5. “Ada Penelitiannya” Belum Cukup Kalimat: «“Ada penelitiannya.”» sering digunakan sebagai penutup diskusi. Padahal keberadaan satu penelitian tidak otomatis menyelesaikan pertanyaan. Kita masih perlu bertanya: Penelitian seperti apa? Penelitian dengan sampel kecil? Studi observasional? Eksperimen? Studi kasus? Survei? Meta-analisis? Systematic review? Bagaimana kualitas metodologinya? Apakah hasilnya konsisten dengan penelitian lain? APA menjelaskan bahwa dalam praktik psikologi berbasis bukti, bukti penelitian yang relevan idealnya dipertimbangkan sebagai bagian dari keseluruhan body of evidence, termasuk systematic review, besarnya efek, signifikansi statistik maupun klinis, serta keterbatasan dan penerapan hasil pada kasus tertentu. Jadi: «Satu penelitian adalah bukti.» Tetapi: «Bukti bukan berarti kesimpulan final.» --- 6. Peer Review Bukan Stempel Kebenaran Peer review sering dipahami secara keliru. Sebuah artikel yang telah melalui peer review memang telah melewati proses evaluasi oleh penelaah ilmiah sebelum publikasi. Namun: «Peer review tidak berarti penelitian tersebut pasti benar.» Peer review dapat membantu menemukan kelemahan metodologi, persoalan argumentasi, ketidaksesuaian analisis, atau masalah lain. Tetapi reviewer juga manusia. Kesalahan dapat tetap lolos. Interpretasi dapat berbeda. Temuan baru dapat kemudian bertentangan dengan hasil sebelumnya. Karena itu, publikasi ilmiah merupakan bagian dari proses komunikasi dan evaluasi ilmiah, bukan sertifikat kebenaran absolut. Yang lebih penting adalah bagaimana temuan tersebut bertahan ketika dibandingkan dengan keseluruhan bukti. --- 7. Replikasi: Apakah Temuan Dapat Bertahan? Salah satu pertanyaan penting dalam ilmu pengetahuan adalah: «Apakah hasil yang ditemukan dapat diperoleh kembali ketika penelitian dilakukan lagi?» Di sinilah konsep replicability menjadi penting. National Academies menjelaskan bahwa reproduksibilitas dan replikasi merupakan bagian penting dari sifat self-correcting ilmu pengetahuan. Penemuan baru dapat memicu pengujian ulang, konfirmasi, revisi, atau perluasan teori yang sudah ada. Jika sebuah efek hanya muncul dalam satu penelitian tetapi gagal berulang kali ketika diuji dengan metode yang sesuai, tingkat kepercayaan terhadap klaim tersebut dapat menurun. Sebaliknya, hasil yang konsisten dalam berbagai penelitian independen dapat meningkatkan kepercayaan. Namun replikasi juga bukan satu-satunya ukuran kualitas penelitian. Ilmu pengetahuan menggunakan berbagai bentuk bukti dan metode sesuai dengan pertanyaan yang sedang diteliti. --- 8. Ilmu Tidak Menunggu Kepastian Absolut Ini bagian yang sering disalahpahami. Ilmu pengetahuan tidak selalu mengatakan: «“Ini 100% benar.”» Justru ilmu bekerja dengan tingkat ketidakpastian. National Academies menjelaskan bahwa karena variabilitas alam dan keterbatasan pengukuran, hasil ilmiah dinilai secara probabilistik; proses ilmiah tidak memberikan kepastian absolut, tetapi memungkinkan tingkat kepercayaan terhadap klaim meningkat atau menurun berdasarkan bukti konfirmatori. Karena itu, bahasa ilmiah sering berbentuk: «“Bukti saat ini menunjukkan…”» «“Temuan konsisten dengan…”» «“Terdapat bukti bahwa…”» «“Efek ditemukan pada kondisi tertentu…”» «“Penelitian masih terbatas…”» Ini bukan bahasa yang lemah. Justru ini adalah bentuk ketepatan epistemik. --- 9. Mengapa Ilmuwan Bisa Berbeda Pendapat? Jika ilmu ilmiah, mengapa para ilmuwan terkadang berbeda pendapat? Karena ilmu pengetahuan bukan proses menghasilkan keseragaman pendapat secara instan. Perbedaan dapat terjadi karena: - data belum cukup; - metode berbeda; - sampel berbeda; - interpretasi berbeda; - ukuran efek kecil; - keterbatasan pengukuran; - hasil penelitian belum konsisten; - atau pertanyaan ilmiahnya memang masih terbuka. Perbedaan tersebut kemudian menjadi bagian dari proses penelitian. Ilmu berkembang bukan karena semua orang langsung sepakat. Ilmu berkembang karena klaim dapat diperdebatkan berdasarkan bukti. --- 10. Konsensus Ilmiah Bukan Voting Istilah konsensus ilmiah juga sering disalahpahami. Konsensus bukan sekadar: «“Mayoritas ilmuwan memilih A.”» Konsensus ilmiah lebih berkaitan dengan terbentuknya tingkat kesepakatan yang kuat berdasarkan keseluruhan bukti yang telah berkembang dalam suatu bidang. Karena itu, seorang ilmuwan dapat berbeda pendapat terhadap suatu teori atau interpretasi tanpa membuat seluruh ilmu menjadi “tidak ilmiah”. Pertanyaan yang lebih relevan adalah: «Bagaimana keseluruhan bukti dalam bidang tersebut mendukung atau menolak klaim tertentu?» --- 11. Apa Bedanya Hipotesis, Teori, dan Fakta? Tiga istilah ini juga sering tertukar. Hipotesis Merupakan dugaan atau proposisi yang dapat diuji. Teori ilmiah Bukan sekadar “pendapat”. Dalam ilmu, teori merupakan kerangka penjelasan yang didukung oleh bukti dan dapat menghasilkan prediksi atau hipotesis yang dapat diuji. Fakta ilmiah Merujuk pada observasi atau temuan yang telah didukung secara kuat dalam konteks tertentu. Ketiganya tidak berada dalam hubungan: «hipotesis → teori → fakta» seolah-olah semua hipotesis pasti berubah menjadi teori dan teori kemudian menjadi fakta. Perkembangan ilmu jauh lebih kompleks. --- 12. Apakah Istilah Ilmiah Membuat Klaim Menjadi Ilmiah? Tidak. Misalnya: «“Trauma mengubah DNA.”» Kalimat tersebut terdengar ilmiah karena menggunakan istilah biologis. Namun kita harus bertanya: Apa yang dimaksud dengan “mengubah DNA”? Apakah perubahan urutan DNA? Perubahan ekspresi gen? Perubahan epigenetik? Perubahan yang dapat diwariskan? Atau metafora? Tanpa definisi, istilah ilmiah hanya menjadi dekorasi bahasa. Hal yang sama berlaku pada: energi, frekuensi, quantum, neuron, neuroplastisitas, hormon, sistem saraf, dan kesadaran. Kata ilmiah tidak otomatis menghasilkan argumen ilmiah. --- 13. “Menurut Neuroscience…” Juga Harus Diperiksa Ungkapan: «“Menurut neuroscience…”» tidak otomatis menyelesaikan perdebatan. Kita perlu bertanya: «Penelitian neuroscience yang mana?» Mengukur apa? Pada populasi siapa? Menggunakan metode apa? Apa hasil sebenarnya? Apakah kesimpulan yang disampaikan sesuai dengan penelitian? Ini penting karena istilah ilmiah sering mengalami science-washing—penggunaan bahasa ilmiah untuk memberikan kesan kredibilitas pada klaim yang belum tentu didukung oleh bukti yang sesuai. --- 14. Dalam Psikologi, “Ilmiah” Juga Bukan Berarti “Pasti Berlaku untuk Semua Orang” Psikologi berhadapan dengan manusia yang memiliki perbedaan biologis, perkembangan, budaya, lingkungan, pengalaman, dan konteks. Karena itu, penelitian psikologi menghasilkan probabilitas dan pola, bukan hukum sederhana yang selalu berlaku identik pada setiap individu. APA menjelaskan bahwa penerapan bukti penelitian pada individu selalu melibatkan probabilistic inferences; hasil penelitian perlu dipertimbangkan dalam konteks karakteristik individu dan situasi yang bersangkutan. Ini penting. Ketika penelitian menemukan: «“Intervensi X efektif pada kelompok tertentu.”» kesimpulan tersebut tidak otomatis berarti: «“Intervensi X pasti berhasil untuk setiap manusia.”» Batas populasi, kondisi, dan konteks tetap penting. --- 15. Lalu Apa Peran Keahlian Profesional? Jika bukti ilmiah penting, apakah pengalaman profesional tidak penting? Tidak demikian. Dalam Evidence-Based Practice in Psychology, APA menempatkan tiga komponen utama: 1. best available research; 2. clinical expertise; 3. karakteristik, budaya, dan preferensi individu. Ketiganya diintegrasikan dalam pengambilan keputusan profesional. Dengan demikian, ilmu tidak mengatakan: «“Pengalaman profesional tidak berguna.”» Namun pengalaman profesional juga tidak berarti: «“Apa yang saya lihat selama praktik pasti merupakan hukum universal.”» Keahlian profesional justru mencakup kemampuan mengevaluasi bukti dan menyadari keterbatasan pengetahuan serta bias yang dapat memengaruhi penilaian. --- 16. Jadi, Apakah Seorang Praktisi Boleh Mengatakan “Berdasarkan Pengalaman Saya”? Tentu. Bahkan itu merupakan bentuk komunikasi yang lebih jujur. Bandingkan: «“Berdasarkan pengalaman saya, beberapa klien tampak terbantu dengan pendekatan ini.”» dengan: «“Pendekatan ini terbukti menyembuhkan masalah tersebut.”» Pernyataan pertama secara jelas membatasi sumber pengetahuannya. Pernyataan kedua membuat klaim empiris yang jauh lebih besar. Keduanya tidak memiliki beban pembuktian yang sama. --- 17. Dari “Saya Mengalami” ke “Ini Terbukti” Perhatikan lompatan berikut: Saya mengalami X. ↓ Saya percaya X menyebabkan Y. ↓ Saya melihat orang lain mengalami X dan Y. ↓ X mungkin berhubungan dengan Y. ↓ Penelitian menunjukkan hubungan X dan Y. ↓ Penelitian eksperimental mendukung kemungkinan hubungan kausal. ↓ Berbagai penelitian independen menghasilkan temuan konsisten. Setiap tahap membutuhkan jenis bukti dan kehati-hatian yang berbeda. Inilah yang sering hilang dalam konten populer. Pengalaman langsung meloncat menjadi kesimpulan ilmiah. --- 18. Bagaimana Kita Menilai Sebuah Klaim? Gunakan pertanyaan berikut. A. Apa sebenarnya klaimnya? Jangan menilai sesuatu sebelum mengetahui pernyataan yang hendak dibuktikan. B. Bagaimana istilahnya didefinisikan? Istilah yang kabur menghasilkan klaim yang sulit diuji. C. Apa bukti yang digunakan? Testimoni, survei, eksperimen, studi longitudinal, systematic review, atau jenis bukti lainnya? D. Apakah desain penelitian sesuai dengan pertanyaan? Pertanyaan kausal membutuhkan desain yang mampu mendukung inferensi kausal. E. Seberapa besar dan konsisten efeknya? Signifikansi statistik saja tidak selalu menjawab apakah efek tersebut penting secara praktis. F. Apakah hasilnya direplikasi? Temuan yang konsisten biasanya memberikan dasar kepercayaan yang lebih kuat. G. Apa keterbatasannya? Tidak ada penelitian yang bebas dari keterbatasan. H. Apakah kesimpulannya lebih besar daripada datanya? Ini salah satu pertanyaan terpenting: «Apakah klaim yang disampaikan benar-benar sebanding dengan bukti yang tersedia?» --- 19. Membaca Status Sebuah Pernyataan Tidak semua pernyataan yang muncul dalam pembahasan ilmiah memiliki status yang sama. Ketika seseorang berkata: «“Saya mengalami X.”» kita sedang mendengar laporan pengalaman. Ketika ia berkata: «“Saya memaknai X sebagai Y.”» kita sedang berhadapan dengan interpretasi atau pemaknaan. Ketika ia mengatakan: «“Saya menduga X menyebabkan Y.”» itu merupakan hipotesis atau dugaan mengenai hubungan sebab-akibat. Ketika penelitian menemukan: «“Dalam penelitian ini ditemukan hubungan antara X dan Y.”» kita sedang berbicara mengenai temuan empiris dalam konteks penelitian tersebut. Jika kemudian berbagai penelitian independen menemukan pola yang relatif konsisten, kita memiliki sintesis bukti yang lebih kuat mengenai suatu fenomena. Namun ketika seseorang mengatakan: «“X selalu menyebabkan Y pada semua orang.”» ia telah membuat klaim yang jauh lebih luas. Klaim seperti itu membutuhkan dasar bukti yang jauh lebih kuat dan cakupan penelitian yang sesuai. Karena itu, literasi ilmiah bukan hanya kemampuan mengetahui apa hasil penelitiannya, tetapi juga kemampuan membaca seberapa jauh hasil tersebut boleh digunakan untuk membuat kesimpulan. --- 20. Ilmu Pengetahuan Bersifat Self-Correcting Salah satu kekuatan ilmu pengetahuan justru terletak pada kemampuannya untuk mengoreksi dirinya sendiri. Temuan baru dapat: - memperkuat teori; - mempersempit penerapan teori; - menunjukkan keterbatasan; - menghasilkan teori baru; - atau membantah sebagian pemahaman sebelumnya. National Academies menggambarkan proses tersebut sebagai bagian dari sifat self-correcting ilmu pengetahuan. Pengetahuan ilmiah berkembang melalui pengujian, konfirmasi, pemeriksaan batas hasil, dan penelitian lanjutan. Karena itu, mengatakan: «“Ilmu berubah.”» bukan otomatis kritik terhadap ilmu. Justru kemampuan berubah ketika bukti berubah merupakan salah satu karakter penting ilmu pengetahuan. --- 21. Mengapa “Saya Tidak Tahu” Justru Ilmiah? Dalam budaya media sosial, orang sering merasa harus memiliki jawaban. Semua pertanyaan harus dijawab. Semua fenomena harus memiliki sebab. Semua pengalaman harus diberi makna. Semua masalah harus memiliki metode penyelesaian. Ilmu pengetahuan tidak bekerja demikian. Jika bukti belum memadai, jawaban yang paling tepat dapat berupa: «“Belum diketahui.”» Atau: «“Bukti saat ini belum cukup untuk menyimpulkan.”» Atau: «“Temuan penelitian masih tidak konsisten.”» Ketidakpastian bukan kegagalan ilmu. Ketidakpastian adalah informasi mengenai batas pengetahuan saat ini. --- 22. Jadi, Siapa yang Berhak Menyebut Sesuatu “Ilmiah”? Jawabannya bukan: dokter. Bukan: profesor. Bukan: psikolog. Bukan: universitas. Bukan pula: influencer yang memiliki jutaan pengikut. Tidak ada satu gelar yang secara otomatis mengubah semua pernyataan seseorang menjadi ilmiah. Status ilmiah sebuah klaim terutama bergantung pada proses pengetahuan yang mendasarinya: pertanyaan yang jelas → metode yang sesuai → data → analisis → evaluasi kritis → publikasi/komunikasi ilmiah → pengujian oleh komunitas → replikasi atau penelitian lanjutan → sintesis bukti → revisi bila diperlukan. Ini bukan keputusan satu orang. Ini adalah proses kolektif yang terus berlangsung. --- 23. Dan Karena Itu, Tidak Ada “Pemilik Kebenaran Ilmiah” Ilmu bukan kerajaan yang memiliki satu raja. Tidak ada seseorang yang dapat berkata: «“Saya adalah pemegang kebenaran ilmiah.”» Yang ada adalah: klaim, bukti, metode, argumentasi, kritik, pengujian, dan tingkat kepercayaan terhadap kesimpulan. Seorang ilmuwan dapat salah. Sebuah jurnal dapat menerbitkan penelitian yang kemudian dikritik. Sebuah teori dapat diperbaiki. Sebuah hasil dapat gagal direplikasi. Dan pemahaman ilmiah dapat berubah. Namun perubahan tersebut terjadi melalui proses evaluasi terhadap bukti. --- 24. Kesimpulan Pertanyaan: «“Siapa yang menentukan sebuah klaim itu ilmiah?”» sebenarnya memiliki jawaban yang lebih menarik daripada sekadar menyebut nama lembaga atau profesi. Tidak ada satu otoritas tunggal. Sebuah klaim memperoleh status ilmiah melalui proses penyelidikan yang menggunakan metode sistematis, bukti empiris, transparansi, evaluasi kritis, dan keterbukaan terhadap pengujian ulang. Dalam psikologi, praktik berbasis bukti bahkan tidak hanya mengandalkan penelitian, tetapi mengintegrasikan bukti penelitian terbaik yang tersedia, keahlian profesional, serta karakteristik, budaya, dan preferensi individu. Karena itu, kita perlu berhati-hati terhadap beberapa logika berikut: «“Dia ahli, berarti semua yang dikatakannya ilmiah.”» Tidak otomatis. «“Ada jurnalnya, berarti pasti benar.”» Tidak otomatis. «“Sudah peer-reviewed, berarti final.”» Tidak otomatis. «“Banyak orang mengalaminya, berarti terbukti.”» Tidak otomatis. «“Ada istilah neuroscience, berarti ilmiah.”» Tidak otomatis. Yang lebih tepat adalah bertanya: «Apa klaimnya?» «Bagaimana klaim itu diuji?» «Apa buktinya?» «Seberapa kuat buktinya?» «Apakah hasilnya konsisten?» «Apa batas kesimpulannya?» Dan yang paling penting: «Apakah kesimpulan yang disampaikan benar-benar sebanding dengan bukti yang tersedia?» Itulah salah satu fondasi literasi ilmiah. --- JIWASEHAT Ilmiah bukan berarti dikatakan oleh orang yang memakai gelar ilmiah. Ilmiah bukan berarti menggunakan istilah yang terdengar ilmiah. Ilmiah bukan berarti memiliki satu penelitian sebagai pembenaran. Dan ilmiah juga bukan berarti: «“Pasti benar selamanya.”» Ilmu bekerja dengan cara yang lebih rendah hati: «“Inilah yang dapat kita simpulkan berdasarkan bukti yang tersedia saat ini—dan kesimpulan itu tetap terbuka untuk diuji kembali.”» Maka ketika seseorang berkata: «“Ini sudah terbukti secara ilmiah.”» Jangan buru-buru percaya. Jangan pula buru-buru menolak. Cukup ajukan pertanyaan yang paling mendasar: «“Buktinya apa, metodenya bagaimana, dan sejauh mana bukti tersebut benar-benar mendukung klaimnya?”» Karena pada akhirnya, yang membuat sebuah klaim ilmiah bukan seberapa meyakinkan orang yang mengucapkannya, melainkan seberapa kuat klaim tersebut dapat dipertanggungjawabkan melalui proses ilmiah. JiwaSehat — satu manusia, banyak dimensi, banyak ilmu. --- Referensi Utama American Psychological Association. (2021). Policy Statement on Evidence-Based Practice in Psychology. APA Presidential Task Force on Evidence-Based Practice. (2006). Evidence-based practice in psychology. American Psychologist, 61(4), 271–285. American Psychological Association. Evidence-Based Practice in Psychology. National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine. (2019). Reproducibility and Replicability in Science. Washington, DC: The National Academies Press. Spring, B. (2007). Evidence-based practice in clinical psychology: What it is, why it matters; what you need to know. Journal of Clinical Psychology, 63(7), 611–631.